Belakangan ini, nilai tukar rupiah menjadi perbincangan panas di tengah para pelaku pasar di Indonesia. Rupiah melemah, hampir mencapai Rp15.000.

Banyak yang yakin Indonesia kembali ke posisi terendahnya 2 dekade silam. Benarkah begitu?

Mari kita simak bagaimana pandangan value investor Rivan Kurniawan terhadap kondisi ini!

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:Logo Rivan Kurniawan

 

Pelemahan Rupiah: Alasan di Balik Merosotnya Nilai IHSG?

Untuk kesekian kalinya di tahun 2018 ini, IHSG berfluktuasi cukup tinggi. Dalam 1 pekan perdagangan terakhir, IHSG kembali harus terkoreksi dari 6,065 menjadi 5,683-an atau terkoreksi sekitar 6,3%.

Pada penutupan perdagangan beberapa waktu lalu, IHSG bahkan sempat terkoreksi di atas 3% dalam kurun waktu 1 hari saja.

BEI-Ingin-Startup-IPO-2-Finansialku

[Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Makin Ngamuk Rp14.200, Apakah Pertanda Krismon?]

 

Menurut catatan saya, sebelumnya IHSG juga sempat terkoreksi di atas 3% dalam 1 hari perdagangan ketika cerita tentang Krisis Turki berkembang di pelaku pasar pada pertengahan Agustus 2018.

Setelah berita tentang Krisis Turki sedikit mereda, pasar saham kemarin kembali dikejutkan dengan penurunan IHSG sebanyak 3,7% dalam waktu sehari.

Penyebabnya? Sentimen rupiah yang melemah hingga mencapai Rp15.000 memunculkan spekulasi bahwa Indonesia akan terkena krisis keuangan seperti tahun 1998. Apakah benar demikian? Mari kita lihat faktanya.

 

Mitos 1: Pelemahan Rupiah 2018 Lebih Parah Dibandingkan 1998?

Banyak pelaku pasar mengatakan bahwa posisi nilai tukar rupiah saat ini jauh lebih rendah nilainya dibandingkan dengan posisi nilai tukar rupiah di tahun 1998.

Masih terekam jelas di ingatan masyarakat Indonesia, dua dekade silam, rupiah melemah sampai Rp14.000. Sedangkan di tahun 2008, rupiah sampai mencapai titik Rp15.000.

Kalau Anda lihat secara nominal, mungkin ada benarnya bahwa rupiah yang saat ini hampir mencapai Rp15.000/US$ artinya Rp1.000 lebih lemah dibandingkan dengan rupiah di tahun 1998. Tapi, kalau Anda lihat angka pembandingnya, Anda akan punya perspektif lain.

Di tahun 2018 ini, perlahan-lahan nilai rupiah melemah dari Rp13.300-an di awal tahun hingga menyentuh Rp15.000 di September 2018. Artinya rupiah melemah sebesar 11-12% sepanjang tahun 2018 ini.

Namun jika Anda bandingkan dengan tahun 1998, rupiah anjlok secara drastis dari Rp3.000 menjadi Rp14.000. Dengan demikian, artinya rupiah melemah 450% dalam waktu +/- 1 tahun!

Coba bayangkan kalau Anda adalah seorang pengusaha yang memiliki pinjaman dalam Dolar AS.

Di tahun 2018 ini, dengan melemahnya rupiah sebesar 11-12% berarti pinjaman Anda dalam Dolar AS tadi juga nilai nya membengkak sebesar 11-12%. Berat? Bisa jadi! Tapi hal itu masih bisa ditoleransi.

Para pengusaha bisa melakukan hedging, karena rupiah melemah secara perlahan.

Namun, bayangkan kalau Anda memiliki pinjaman dalam Dolar AS di tahun 1998 silam. Artinya nilai pinjaman Anda membengkak hingga hampir 5x lipat!

Apa Bedanya Reksa Dana Dolar dan Reksa Dana Rupiah Cari Informasi Selengkapnya Disini! 01 - Finansialku

[Baca Juga: Tips Membeli Saham yang Kurang Likuid, Apakah Menguntungkan Beli Saham yang Kurang Likuid?]

 

Jika kita meninjau kembali peristiwa krisis Turki pada Agustus lalu, salah satu faktor yang memicu krisis di Turki adalah pertumbuhan utang luar negeri yang besar.

Diperparah lagi dengan melemahnya mata uang Turki hingga 70% terhadap US$.

Dengan begitu, berarti utang luar negeri Turki juga meningkat hampir 2x lipat secara nilai, sesuatu yang tidak terjadi pada Indonesia saat ini.

Dari pemaparan di atas, kita sekarang mengetahui bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidaklah seburuk tahun 1998.

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 2

Nilai tukar rupiah 1998-2018. Perhatikan pelemahan signifikan yang terjadi di tahun 1998.

 

Mitos 2: Indonesia Memasuki Masa Resesi?

Banyak pelaku pasar juga berspekulasi dengan menyebutkan bahwa Indonesia saat ini mulai memasuki tahap resesi atau kelesuan pasar dan industri yang berpotensi menuju krisis ekonomi, seperti layaknya tahun 1998.

Well, sebelum Anda berpikir demikian, mari kita bahas sedikit tentang siklus ekonomi atau economic cycle di Indonesia.

Apabila Anda tarik data pertumbuhan ekonomi Indonesia (Anda bisa lihat datanya di TradingEconomics.com, yang tersedia dari tahun 2000), Anda akan menemukan pola di mana jika kita lihat dari perspektif 20 tahunan, justru saat ini pertumbuhan ekonomi sedang berada pada fase recovery.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store


 

Sejak pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 mencapai titik terendah sebesar 4,8%, di tahun 2016-2018 ini perlahan tapi pasti pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai naik mencapai 5,27% pada Kuartal II 2018.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa lihat grafik di bawah ini:

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 3

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2000-2018.

 

Dari grafik di atas, tak bisa dikatakan bila Indonesia sedang berada dalam fase resesi.

Memang pertumbuhan ekonomi Indonesia belum bisa mencapai 6% seperti di tahun 2011 lalu, namun sebagai perbandingan, di tahun 1998 Indonesia justru sedang memasuki Pertumbuhan Ekonomi Negatif (saya lupa berapa persisnya, tapi beberapa sumber menyebutkan Pertumbuhan Ekonomi di tahun 1998 adalah negatif 13%).

Jadi kita bisa mengatakan bahwa Indonesia masih dalam tahap recovery, hanya saja karena faktor eksternal yang berat saat ini, menyebabkan pertumbuhan ekonomi pun sedikit terhambat.

 

Mitos 3: Inflasi Indonesia Tinggi Sehingga Daya Beli Melemah?

Sebagian masyarakat Indonesia mengeluhkan peningkatan harga-harga barang yang membuat daya beli masyarakat secara keseluruhan melemah (asumsinya adalah tingkat inflasi yang berada di atas pertumbuhan ekonomi).

Padahal, kalau kita lihat sepanjang tahun 2016-2018, inflasi di Indonesia justru sedang dalam masa kondusifnya di mana inflasi terkendali sesuai dengan target Bank Indonesia yaitu 4% dengan toleransi batas atas dan batas bawah 1%.

Saat saya menulis artikel ini pun, inflasi di Indonesia masih sebesar 3,2%.

Bandingkan dengan tahun 1998, di mana inflasi waktu itu meningkat sebesar 81%. Artinya harga-harga barang meningkat hampir 2x lipat dalam waktu yang amat singkat.

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 4

Inflasi Indonesia 1996-2018. Perhatikan inflasi di tahun 1998.

 

Dari gambar di atas, kita dapat melihat bahwa saat ini tingkat inflasi Indonesia masih aman terkendali di sekitar 3,2%.

Jadi, rasanya tak bisa dikatakan kalau tingkat inflasi Indonesia lah yang menyebabkan daya beli pelanggan mengalami penurunan.

Ingin harta Anda terhindar dari inflasi? Investasikan harta Anda di instrumen logam mulia. Tahukah Anda, emas disebut sebagai alat lindung nilai atas inflasi (inflation hedge)?

Pelajari dasar-dasar dan kiat sukses investasi emas lewat ebook Panduan Berinvestasi Emas! Download sekarang juga, gratis!

Download Ebook Panduan Berinvestasi Emas untuk Pemula - Harga Emas Hari Ini - Finansialku

Download Ebook Sekarang

 

Mitos 4: Indonesia Tidak Mampu Membayar Utang Luar Negeri?

Utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo tahun 2019 memang cukup besar, yaitu mencapai Rp409 triliun.

Meski demikian, rupanya rasio utang masih berada pada level di bawah 30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah juga menargetkan untuk mengendalikan tambahan utang. Bandingkan dengan di tahun 1998 di mana rasio perbandingan utang pemerintah terhadap PDB Indonesia mendekati angka 100%.

Artinya, meskipun saat ini utang luar negeri Indonesia terbilang besar (di mana setengah dari jumlah utang saat ini juga merupakan warisan dari tahun-tahun sebelumnya), namun jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDB, masih dapat dikategorikan aman.

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 5

Rasio utang pemerintah terhadap PDB 1998-2018.

 

Imbas Krisis Global Terhadap Indonesia?

Banyak pihak yang mengaitkan krisis yang terjadi secara global berimbas pada krisis di Indonesia saat ini. Misalkan setelah Krisis Turki, krisis pun mulai terjadi di Argentina.

Sebenarnya selain Argentina, Venezuela dan Afrika Selatan juga dapat dikategorikan sedang mengalami krisis, namun akan terlalu panjang jika kita bahas semuanya.

Berikut adalah beberapa fakta yang saya coba kumpulkan mengenai krisis di Argentina:

 

Krisis Argentina 1: Mata Uang Peso yang Anjlok Terhadap Dolar AS

Dalam setahun terakhir, nilai mata uang peso Argentina terperosok hingga 108%.

Pada awal 2017, nilai tukar peso Argentina masih di sekitar 15 peso/US$. Sedangkan saat ini, nilai tukar mata uang peso adalah 37,3 peso/US$.

Sementara itu, seperti disampaikan di atas, nilai tukar rupiah hanya melemah 11%.

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 6

Nilai tukar mata uang peso Argentina 2008-2018.

 

Krisis Argentina 2: Tingkat Inflasi Sangat Tinggi Mencapai 31%

Bisa dibilang saat ini Argentina sudah secara resmi bisa dikatakan mengalami krisis, di mana para investor sudah mulai cemas dengan inflasi yang sangat tinggi hingga mencapai 31%.

Mirip dengan Turki, tingkat inflasi di Argentina ini jauh di atas pertumbuhan ekonomi Argentina yang stagnan (hanya sekitar 4%). 

Masih ingat dengan angka inflasi Indonesia saat ini? Ya, hanya sekitar 3,2% dan masih berada di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi (5,27%).

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 7

Tingkat inflasi Argentina 2008-2018.

 

Krisis Argentina 3: Suku Bunga Acuan Naik Hingga 60%

Di saat inflasi yang semakin tinggi, tentu saja pemerintah Argentina tidak tinggal diam.

Demi mengurangi peso yang beredar di pasaran, Bank Sentral Argentina atau Banco Central de la República Argentina (BCRA) mengambil keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan.

Suku bunga acuan saat ini perlahan-lahan naik hingga menjadi 60% untuk meredam laju inflasi sekaligus menahan keluar dana investasi dari Argentina.

Namun, sayangnya sejauh ini kebijakan tersebut masih belum memberikan dampak yang signifikan.

Sementara di sisi lain, suku bunga acuan di Indonesia “hanya” 5,5% dan masih memberikan ruang untuk bertumbuhnya pertumbuhan ekonomi.

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 8

Suku bunga acuan Argentina 2013-2018.

 

Kesimpulan

Dari berbagai indikator di atas, dapat kita katakan bahwa krisis global seperti yang terjadi di Argentina dan Turki memang sudah cukup jelas terjadi. Namun tidak demikian dengan Indonesia di tahun 2018 ini.

Saya tetap berkeyakinan bahwa Indonesia saat ini masih memiliki fundamental yang kuat, meskipun di sisi lain Indonesia tetap memiliki risiko yaitu Deficit Current Account yang melebar serta tantangan untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah lebih jauh lagi.

Sebagai penutup, saya akan menyajikan rangkuman data antara indikator makro ekonomi Indonesia di tahun 2018 ini dan perbandingannya dengan Indonesia di 1998 serta indikator negara lain yang terkena krisis dan resesi seperti Turki, Argentina, Venezuela, dan Afrika Selatan.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memberikan rasa percaya diri kepada Anda dalam berinvestasi!

Rupiah Melemah Indonesia Kembali ke 1998 Finansialku 9

Perbandingan indikator makro ekonomi Indonesia 2018 VS 1998 VS krisis negara global.

 

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda. Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan tuangkan dalam kolom komentar di bawah ini. Terima kasih!

 

Sumber Referensi:

 

Sumber Gambar:

  • Rupiah – https://goo.gl/1kfUPC
  • Grafik-grafik – https://goo.gl/mqWDDz