Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp14.200 dalam waktu yang singkat, pada awal tahun berada pada kisaran Rp13.500.

Apakah masih bisa dianggap wajar?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Semakin Ciut!

Perang dagang antara Amerika dan Cina, serta sentimen lain yang mempengaruhi ekonomi global pun ikut berimbas pada ekonomi nasional.

Pada awal tahun dolar AS masih berada pada level Rp13.500, lalu tiba-tiba mengamuk melonjak tembus level Rp14.200. Ini menjadi perhatian sebagian besar masyarakat, takut kembali terulang krisis moneter seperti yang pernah terjadi di tahun 1998.

Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator terpenting untuk melihat kondisi fundamental perekonomian. Jika lemah, pertanda ekonomi bangsa sedang lemah.

Kendati demikian, Pemerintah ataupun Bank Indonesia (BI) sendiri masih bersikap tenang menghadapi kondisi tersebut. Entah percaya bahwa rupiah belum mengkhawatirkan atau hanya berupaya meredam pasar?

Meski otoritas masih bersikap tenang, kondisi ini tidak bisa terus menerus ditutup-tutupi. Kini pelemahan rupiah dampaknya mulai terasa di berbagai sektor.

Seperti pasar modal yang kian terpuruk lantaran makin banyak investor asing yang melepas pasar, hingga harga pakan ternak yang terus melangit.

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Makin Ngamuk Rp14.200 02 - Finansialku

[Baca Juga: Hati-hati! Rupiah Melemah Utang Luar Negeri Bertambah]

 

Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman menjelaskan bahwa dampak kebijakan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dinilai membutuhkan waktu untuk memengaruhi nilai Rupiah terhadap dolar AS.

Penguatan dolar juga terjadi pada mata uang lain.

Juniman menjelaskan pelemahan rupiah ini juga karena outflow yang terjadi di pasar saham dan pasar obligasi.

Outflow terjadi karena saat ini investor melihat kondisi ekonomi global, misalnya The Federal Reserve menaikkan bunga maka tekanan untuk aliran modal keluar dari negara berkembang akan semakin kuat.

Kemudian, current account deficit (CAD) juga turut memengaruhi pelemahan nilai tukar. Ini terjadi karena impor yang meningkat di tengah perbaikan ekonomi namun ekspor terbatas. Selain itu, neraca pembayaran juga mengalami masalah.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

Mengutip dari Finance.detik.com, Rabu (23/5/28), Juniman mengungkapkan:

“Selain itu yang perlu diingat bulan ini adalah musim pembayaran dividen yang turut memperparah keadaan nilai tukar. Sehingga terkesan Rupiah melemah signifikan padahal faktornya banyak.”

 

Kenaikan bunga acuan bukan jaminan untuk perbaikan nilai tukar rupiah. Untuk menopang nilai tukar rupiah BI harus memonitor keadaan seperti kondisi pasar keuangan.

“BI juga harus mengeluarkan bauran kebijakan lain untuk mengganjal kebijakan kenaikan bunga. Seperti relaksasi kebijakan makroprudensial seperti loan to value (LTV)/GWM supaya likuiditas banyak karena ada pertumbuhan.”

 

Juniman percaya jika LTV dilakukan, mampu mendorong sentimen positif ke investor. Saat ini kondisi yang terjadi adalah BI menaikkan bunga tanpa melakukan apa-apa.

Jika BI melakukan bauran kebijakan, Juniman yakin investor akan kembali dan memprediksikan akhir tahun rupiah akan kembali di kisaran Rp13.700. Hanya saja dalam prosesnya membutuhkan waktu.

Dengan pergerakan nilai tukar ini banyak outflow atau aliran modal keluar. Kondisi ini akan menekan cadangan devisa (cadev) namun aliran masuk sangat terbatas. Dari data BI cadev RI per April 2018 tercatat US$126 miliar (Rp1.764 triliun).

Gratis Download Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG

 

Lalu Apakah Nilai Tukar Rupiah Saat ini Masih Dalam Level Wajar?

Josua Pardede selaku Ekonom Bank Permata memandang bahwa dalam menentukan wajar atau tidaknya nilai mata uang adalah hal yang cenderung subjektif. Sebab yang diinginkan dunia usaha dan pelaku pasar adalah kestabilan.

“Keseimbangan baru itu subjektif dan kalau kita lihat bukan levelnya, yang penting rupiah ini stabil. Pada saat stabil sektor riil pun akan lebih confidence. Bukan berarti berharap balik lagi ke Rp10 ribu.”

 

Menurutnya ada 3 faktor penyebab rupiah terus melemah.

Pertama sentimen negatif global, bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya sehingga membuat dana asing keluar dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kedua neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,63 miliar (Rp22,82 triliun) pada April 2018 dengan rincian ekspor US$14,47 miliar (Rp202,58 triliun) dan impor US$16,09 miliar (Rp225,26 triliun).

Lalu terakhir, ada sentimen musiman mengenai maraknya pembagian dividen dari para perusahaan. Menyebabkan peningkatan penggunaan Dolar AS di dalam negeri.

Dengan mengacu pada 3 faktor tersebut, Josua percaya bahwa nilai tukar rupiah saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi RI sesungguhnya. Itu artinya, dia percaya seharusnya rupiah bisa lebih kuat dari posisi saat ini.

Josua yakin nilai rupiah bisa berada di bawah level Rp14.000 jika musim pembagian dividen sudah terlewatkan, dan sentimen global mulai mereda.

Disisi lain, Komisi XI DPR RI menggelar rapat dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Dalam rapat ada anggota DPR bertanya apakah dolar AS bisa sampai Rp17.000?

Menanggapi hal tersebut Agus menjelaskan saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang sudah lebih lemah dari yang seharusnya.

“Hampir Rp 14.200 itu sudah lebih lemah dari seharusnya. Kalau sampai Rp17.000 ya tidak, karena kita tidak punya target tertentu untuk nilai tukar.”

 

Sebagai bank sentral, BI tidak memiliki target nilai tukar tertentu karena yang berhak menargetkan adalah pemerintah yakni dalam asumsi Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN).

“BI mandatnya kan menjaga nilai tukar supaya tidak bergejolak dan berfluktuasi terlalu tinggi. Agar kepercayaan tetap terjaga.”

 

Rupiah-Melemah-Utang-Luar-Negeri-Bertambah-2-Finansialku

[Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, BI Dinilai Harus Punya Solusi Lain]

 

Senada dengan Josua, Agus menganggap kondisi ekonomi nasional saat ini memang belum memungkinkan, karena impor yang tinggi dan ekspor yang rendah ini menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.

Agus juga menyatakan meskipun nilai tukar terus bergerak di atas Rp14.000 namun Indonesia tidak masuk ke dalam kelompok fragile five.

Kelompok fragile five adalah lima negara yang rentan terdampak krisis global karena kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS).

Kelompok tersebut juga menggambarkan negara berkembang yang masih ketergantungan kepada aliran modal asing untuk membiayai pertumbuhan.

“Kita patut bersyukur untuk Indonesia, karena dunia mengatakan Indonesia tidak masuk dalam kelompok fragile five.”

 

Agus Menceritakan, Indonesia 5 tahun lalu atau pada 2013 sempat masuk ke dalam kelompok fragile five pada era taper tantrum.

Negara yang masuk dalam kelompok fragile five adalah India, Afrika Selatan, Brasil, Turki dan Indonesia. Kemudian satu tahun kemudian pada 2014 Indonesia berhasil keluar dari fragile five.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

Saat ini, menurut Agus pengelolaan ekonomi dan sistem keuangan Indonesia lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.

Agus beranggapan ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Pasalnya Indonesia telah mendapatkan status atau rating yang lebih tinggi satu notch dari investment grade yang diberikan oleh Fitch Ratings dan Moody’s.

 

Terima kasih sudah membaca tulisan ini hingga selesai.

Apakah informasi dalam tulisan ini menambah wawasan dan berguna untuk Anda? Apakah ada teman-teman atau rekan Anda yang membutuhkan informasi ini juga?

Bantu sebarkan artikel ini untuk membantu mereka mendapatkan informasi ini ya.

 

Sumber Referensi:

  • Danang Sugianto. 23 Mei 2018. Dolar AS Sudah Rp 14.200, Masih Bisa Santai? Finance.detik.com – https://goo.gl/YrT6tK

 

Sumber Gambar:

  • Nilai Tukar Rupiah – https://goo.gl/twGVaw
  • Ekonomi Indonesia – https://goo.gl/xivTsk