Menjadi salah satu pemimpin pasar semen di Indonesia, bagaimana kinerja dan prospek PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) ke depannya?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Analisis Fundamental

Perusahaan yang bergerak di bidang usaha produksi semen ini menjadi salah satu pemimpin pasar semen di Indonesia.

Menurut data, konsumsi semen domestik pada Juli tercatat sebesar 5,4 juta ton atau turun hingga 15,3% secara year on year (yoy).

Munculnya pesaing yang beragam, Indocement memutuskan fokus pada perbaikan dan penyempurnaan dengan melakukan perampingan organisasi.

Emiten juga menciptakan industri semen yang lebih ramah lingkungan sesuai dengan komitmen keberlanjutan yang telah dicanangkan Heidelberg Cement Group (Induk perusahaan INTP).

Prospek Industri Semen_ PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) 02

[Baca Juga: Cara MUDAH Belajar Analisa Harga Wajar Saham Buat Pemula!]

 

Industri semen dan juga industri konstruksi serta properti sangat berkaitan, perseroan menyatakan target-target yang ditetapkan oleh Direksi dalam rencana kerja Perseroan merupakan target yang realistis dan dapat dicapai oleh manajemen dengan memperhatikan peningkatan kapasitas SDM, perbaikan pada sistem informasi dan teknologi, serta penerapan efisiensi secara berkelanjutan.

Mulai menggeliatnya industri properti jika kondisi sudah kembali normal di 2021 menjadi harapan untuk industri ini.

Berlanjutnya program pembangunan infrastruktur yang dijalankan Pemerintah inilah yang akan menentukan perseroan kedepannya.

Dengan persaingan yang semakin ketat, INTP harus selalu bisa berinovasi dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kelangsungan bisnisnya.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pemerintah akan memfokuskan alokasi anggaran untuk infrastruktur di 2021 hingga Rp 414 triliun karena mengejar proyek yang tertunda, dan penambahan proyek baru lainnya. demi pemulihan ekonomi di 2021.

INTP di 2020 saat ini banyak mengirimkan ekspor ke China dan Filipina. Sementara untuk produk white cement juga dikirimkan ke berbagai negara di Asia seperti Taiwan dan Korea Selatan.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mendata performa ekspor per September 2020 meroket hingga tiga digit.

Dengan demikian, ASI meyakini permintaan ekspor merupakan pasar yang bisa meringankan penurunan produksi semen hingga akhir 2020.

Permintaan ekspor per September datang dari beberapa negara, seperti China, Australia, Bangladesh, Filipina, Sri Langka, dan Mauritius.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

9 Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

 

Kinerja Keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP)

Untuk kinerja keuangan INTP selama 9 tahun terakhir, Pendapatan produsen semen merek Tiga Roda ini masih tertekan akibat penurunan penjualan pada masa pandemi.

Tercatat pendapatan INTP melemah 10,56 % menjadi Rp 10,14 triliun dari Rp 11,34 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Hal ini terjadi akibat menurunnya kegiatan operasional saat kuartal I/2020 dan Penurunan aktivitas konstruksi pada saat ramadan masa libur lebaran di kuartal II/2020.

Faktor tersebut, ditambah dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berdampak terhadap penjualan Indocement dan laba bersih INTP pada tahun ini.

Pada tahun ini diprediksi akan ditopang oleh efisiensi biaya dan insentif pajak. Meski demikian, tren penurunan pendapatan akan berdampak pada penurunan laba bersih di akhir tahun 2020.

Adapun, hingga kuartal III/2020 perseroan mampu meningkatkan margin kotor sebesar 150 bps menjadi 33,9% dari sebelumnya 32,4%.

Selain itu, margin EBITDA (pendapatan sebelum terkena bunga, pajak, depresiasi, serta amortisasi) juga naik 140 bps menjadi 19,8% dan margin laba usaha tumbuh 30 bps menjadi 11%.

Penurunan penjualan semen hingga 11,5% secara tahunan per Oktober 2020. Menjelang akhir tahun ini, penjualan semen diperkirakan tidak akan pulih dalam laju yang signifikan.

Pasalnya, musim hujan yang diantisipasi setiap Desember dan perpindahan libur lebaran pada akhir tahun menjadi beberapa hal yang akan menghambat laju konsumsi semen.

Revenue INTP

Source: Rivan Kurniawan

 

Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa, Christian Kartawijaya mengatakan pengiriman ekspor produk perseroan pada September 2020 meningkat signifikan sebesar 464,56% menjadi 44.341 ton dari 7.854 ton pada September 2019.

Jika melihat aset INTP selama 9 tahun terakhir, di 2020 INTP mencatatkan penurunan dan cenderung stagnan atas aset, untuk Ekuitas Rp 22,3 triliun sedangkan utang Rp 3,9 triliun, DER 0,17x.

Maka ini menandakan INTP memiliki kondisi neraca keuangan yang sehat. Dengan cadangan kas yang terjaga, serta tidak adanya pinjaman bank pada kuartal I/2020,

Aset n DER

Source: Rivan Kurniawan

 

Dari laporan keuangan perseroan per kuartal III-2020 INTP (idx.co.id), manajemen INTP Perusahaan beroperasi dalam segmen Semen yang menyumbang hingga 95%, 7,2% dari segmen Beton siap pakai dan Tambang Agregat sebesar 0,09% .

Untuk melihat apakah saham ini tergolong mahal/murah, kita bisa melihat valuasi Price Book Value (PBV) nya yang ada di 1,9x, yang tergolong masih overvalued dalam industri ini.

Untuk Price to Earning Ratio INTP yang meningkat ada di 47,9x yang menandakan tidak lebih baik daripada tahun lalu.

PBV and PER

Source: Rivan Kurniawan

 

Untuk Return on Equity INTP pada 2020 ada di 4%, lebih baik kecil dari 2019, yang artinya di tahun ini INTP kurang efisien dibanding tahun lalu, penurunan permintaan dan PSBB membuat INTP tertekan dalam mengelola asset dan liabilities nya untuk mendapatkan profit ditengah kondisi pandemi saat ini.

Untuk kondisi Liabilitas, mengalami penurunan 24,3% dari tahun sebelumnya, penurunan ini berasal dari

Liabilitas INTP

Source: Rivan Kurniawan

 

Pencapaian itu membuat INTP masuk ke dalam jajaran konstituen indeks IDX High Dividend 20.

Indeks itu beranggotakan 20 saham yang membagikan dividen tunai selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.

INTP membukukan penurunan laba bersih menjadi Rp1,86 triliun. Namun, perseroan tetap sepakat membagikan dividen.

Dividen INTP

 

Analisis Teknikal PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP)

Hingga penutupan market Sesi I-18 November 2020, saham PT Indocement Tunggal Prakarsa terlihat mengalami downtrend dari 2019.

Untuk analisa teknikal jangka panjang terhadap emiten ini, dalam grafik kerangka waktu weekly.

INTP yang sejak April hingga September dalam keadaan sideways, di kuartal IV nanti ada kemungkinan potensi masih bullish melihat prospek properti dan infrastruktur yang kembali berjalan setelah pandemi dan vaksin rampung.

Saat tulisan ini ditulis (18/11), INTP diperdagangkan pada 14275/unit menguat 0,88% di sesi I.

Secara analisa teknikal yang dibuat dengan menggunakan Chartnexus, untuk short views terlihat sinyal akan ada pergerakan naik setelah pola tersebut.

Indikator MACD, berada di atas garis nol dengan sinyal buy yang cukup kuat di beberapa minggu terakhir, ada kemungkinan akan terjadi bullish di kemudian hari walau sedang berada di momen jenuh beli nya, tapi tidak menutup kemungkinan penguatan harga di kemudian hari.

Indikator Stochastic menggunakan kerangka waktu Weekly terlihat sinyal overbought momentum, adanya Window Dressing di akhir tahun, tekanan bisa saja akan membaik, disarankan untuk buy jika harga saat harga berada di resistance terdekatnya.

Untuk menentukan Open position indikator EMA (20), EMA (50) dan EMA (100) membentuk pola bearish, akan menjadi menarik jika infrastruktur kembali digenjot dan properti semakin menarik, sinyal menembus resistance jangka pendek nya di 14.937 atau lebih tinggi di 15.776 ada indikasi harga akan tembus 17.000 mid-term.

Melihat dari pola tren sebelumnya, untuk cut loss jika tidak mencapai garis resistance maka ada kemungkinan turun lagi hingga garis support-nya di 12.000/unit.

Analisis Teknikal INTP

 

Outlook PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP)

Tertekannya industri semen di masa pandemi ini membuat pertumbuhan penjualan semen secara nasional berada pada posisi minus 9% sepanjang tahun ini hingga akhir September 2020.

Akibat penghentian terhadap sejumlah pembangunan infrastruktur pemerintah dan konstruksi masyarakat selama pandemi. Namun penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak positif pada INTP.

Manajemen INTP pun menilai pergerakan nilai tukar rupiah yang kian stabil pasca pemilihan Presiden Amerika Serikat akan menguntungkan perseroan dari sisi biaya produksi.

2020 dimulai dengan musim hujan deras di beberapa daerah terutama pada pangsa pasar inti Indocement di Jawa Barat dan Jawa Tengah sekitar dua bulan yang berdampak pada perlambatan industri semen di seluruh Indonesia, yang diperparah dengan meluasnya wabah Covid-19.

Pada tingkat ekonomi makro, kondisi pasar juga terganggu oleh wabah Covid-19 yang menyebabkan penambahan ketidakpastian pada iklim bisnis.

Prospek Industri Semen_ PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) 03

[Baca Juga: Sudah Tahu Kapan Waktu yang Tepat Untuk Take Profit Saham?]

 

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jabodetabek dalam rangka mengurangi penyebaran wabah Covid-19 juga turut mempengaruhi pengiriman semen di pangsa utama Perseroan tersebut.

Faktor-faktor ini tentu akan terus menjadi penghambat industri semen selama Semester pertama 2020.

Pada saat bersamaan, industri semen nasional terus mengalami kondisi kelebihan pasokan sekitar 40–45 juta ton semen per tahun dengan penambahan pemain baru di tahun ini di wilayah Jawa.

Dilansir dari bisnis.com biaya produksi perseroan pada 2021 bakal tetap hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Selain posisi risiko nilai tukar yang lebih stabil, hal itu juga akan didukung oleh penurunan indeks pembelian batu bara. Pada tahun depan, secara umum harga semen tidak akan bergerak terlalu fluktuatif bahkan cenderung mendatar (flat). 

Permintaan semen pada 2021 diperkirakan bisa kembali tumbuh positif pada kisaran 4%-5% setelah jatuh -9% hingga -10% tahun ini.

Perkiraan tersebut didasari mengingat angka bujet infrastruktur yang ditingkatkan 47% secara tahunan menjadi Rp 414 triliun pada 2021.

Sentimen positif konsumsi semen dari pengesahan UU Cipta Kerja. Dengan berlakunya omnibus law, diperkirakan lebih banyak realokasi berbagai pabrik ke kawasan industri di Indonesia.

Di sisi lain, sentimen positif lain muncul lantaran perseroan mampu mengerek penjualan ekspor pada tahun ini seiring dengan Pabrik Tarjun sudah beroperasi kembali.

Optimisme dari kenaikan anggaran infrastruktur dari pemerintah yang sebesar 47% secara tahunan.

Pada tahun 2020 ini, Perseroan juga akan meluncurkan beberapa produk baru, khususnya semen jenis mortar abu-abu.

Perseroan menilai, pasar semen mortar akan semakin berkembang seiring karakteristik konsumen yang membutuhkan kepraktisan.

 

Kesimpulan

Pandemi telah menekan beberapa sektor, turunnya daya beli masyarakat banyak sektor mengalami penurunan kinerja, menurunnya permintaan pasokan semen dan turunannya serta pesaing yang semakin banyak dari dalam dan luar negeri, ini menjadi tantangan bagi INTP di tahun 2021.

 

Disclaimer on: Penyebutan nama saham tidak bermaksud memberikan opsi buy/sell atau pun rekomendasi untuk saham tertentu. Artikel menunjukkan fakta dan analisa dari penulis berdasar laporan keuangan dan diambil dari sumber dianggap terpercaya. Data dapat berubah tergantung kondisi. Seluruh tulisan dan tanggapan adalah opini pribadi.

 

Itulah analisa saham INTP dan prospeknya ke depan yang bisa membantu pertimbangan investasi Anda. Punya pertanyaan? Anda bisa tanyakan dalam kolom komentar.

Anda juga bisa bergabung dalam grup komunitas belajar saham Finansialku untuk info terbaru dan diskusi mengenai saham dengan praktisi dan pakarnya.

 

Sumber Referensi:

  • Aplikasi IPOTGO
  • Annual Report PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbkm (INTP) (www.idx.co.id)
  • Bisnis.com

 

Sumber Gambar:

  • Aplikasi ChartNexus
  • Consolidated Financial Statements PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbkm (INTP), September 2020
  • https://bit.ly/2UET1iF, https://bit.ly/3nC2PXs, https://bit.ly/2INoRaw