Bagaimana sepak terjang perjalanan bisnis Electronic City?

Jika Anda adalah seorang pebisnis yang juga penasaran dengan kisah sukses dari pionir bisnis retail elektronik Indonesia ini, mari simak selengkapnya pada artikel berikut:

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn Franchise

 

Bagaimana Tren Industri Retail Tahun 2019?

Sebagai seorang pebisnis, tentu kita harus selalu mengikuti tren bisnis yang ada.

Nah, seperti kita ketahui era tahun 1990-2000 adalah masa keemasan dimana industri retail berkembang dengan pesat. Kita bisa melihat pusat perbelanjaan dibuka di berbagai tempat. Meski demikian, toko-toko itu masih penuh sesak dengan pengunjung.

Namun kini, banyak toko-toko tersebut gulung tikar, dan berbagai mal terasa sangat sepi. Puncaknya terjadi di tahun 2017, yang dikenal sebagai “kiamat industri retail”.

Meledaknya tren belanja online di kalangan masyarakat membuat para pebisnis retail yang terlambat beradaptasi terpaksa menutup usaha mereka, lainnya beralih ke ranah online.

Tidak mau donk usaha Anda tutup karena kurangnya ilmu dan keterampilan dalam mengelola bisnis?

Salah satu, hal penting yang harus Anda ketahui sebagai pebisnis yaitu mengelola keuangan pribadi dan bisnis. Ini akan menunjang sekali semua roda bisnis Anda.

Jika Anda ingin mengetahuinya, langsung saja baca di ebook Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis.

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG

 

Memang, ada juga hal-hal lainnya yang perlu Anda ketahui supaya bisnis Anda tidak tutup. Anda bisa mulai bergerak kepada usaha dan bisnis berbasis online.

Well, meskipun demikian, “kiamat” yang terjadi di tahun 2017 tak serta merta menjadikan industri retail punah. Memasuki tahun 2019, akan muncul berbagai tren baru yang akan mengubah wajah industri retail menjadi lebih baik.

Kini bisnis retail kembali berkembang, dan berikut 6 tren industri retail yang akan bermanfaat pada tahun 2019 menurut Hashmicro.com:

 

#1 Pengalaman Berbelanja

Belanja online menawarkan berbagai kelebihan, seperti misalnya pilihan produk dan merek, harga yang bersaing, serta kemudahan bertransaksi. Namun ada satu hal yang tidak bisa kita dapatkan dari belanja produk secara online, yakni pengalaman berbelanja.

Dengan pengalaman berbelanja yang terus dikembangkan, industri retail tidak akan pernah punah.

Sebagai contohnya adalah kebahagiaan yang bisa diperoleh saat bisa mencoba produk secara langsung, memegang fisiknya, dan berbagai layanan tambahan lainnya.

 

#2 The Internet of Things (IoT)

Belakangan ini kita sudah bisa melihat produk-produk seperti speaker, TV, hingga mobil terhubung dengan internet. Hal ini membuat pebisnis retail bisa mengumpulkan berbagai data mengenai bagaimana pelanggan mereka menggunakan produk tersebut.

Selanjutnya, penjual produk bisa mengirimkan pesan marketing yang tepat ke para pembeli melalui produk tersebut.

Cara Mempercepat Koneksi Internet 01 - Finansialku

[Baca Juga: Bagaimana Mendorong Pemasaran Online Pada Bisnis Waralaba (Franchise) Anda?]

 

Implementasi IoT lainnya yakni melalui Dash Button, produk dari Amazon.

Dash Button adalah perangkat keras yang anda gunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Di tahun 2019, Amazon telah bekerja sama dengan lebih dari 200 bisnis retail di Amerika Serikat. 

Implementasi the internet of things inilah yang akan membantu industri retail menjalankan pemasarannya.

 

#3 Memanfaatkan Bot Facebook

Mungkin Anda sering menemukan penjual dan pembeli berinteraksi di Facebook. Baik itu untuk menanyakan ketersediaan barang, memastikan harga, mengecek kualitas, hingga menanyakan seputar pengiriman barang yang dibeli.

Nah, kini banyak industri retail yang memanfaatkan Facebook Messenger bot untuk bisa berinteraksi dengan pelanggan.

Cara lainnya adalah dengan membuat bot yang bisa mengirimkan pesan lewat Facebook Messenger yang mengingatkan pembeli bahwa mereka memiliki keranjang belanja dan memungkinkan mereka menyelesaikan pembayaran di aplikasi Facebook Messenger.

 

#4 Menggunakan Komputasi Kognitif

Komputasi kognitif adalah layanan yang bisa menganalisis data dalam jumlah yang masif sama seperti manusia berpikir, menggunakan nalar, dan mengingat, sehingga pelanggan bisa berinteraksi secara natural dengan teknologi tersebut dan mendapatkan rekomendasi berdasarkan data yang akurat.

Pebisnis retail yang mengimplementasikan teknologi ini di divisi layanan pelanggan mereka terbukti mampu memberikan pelayanan yang jauh lebih baik dan lebih cepat. 

Panduan Penggunaan VPN Tarumanagara Untuk Internet Banking KlikBCA Bisnis 02 Pengguna Internet - Finansialku

[Baca Juga: Pemasaran Jaringan: Memiliki Bisnis Waralaba Pribadi dengan Biaya Terjangkau]

 

Sebagai contohnya adalah Hotel Hilton memperkenalkan robot penjaga pintu mereka yang bernama Connie di tahun 2016.

Dengan bantuan Connie, staf front desk di Hotel Hilton bisa fokus pada pekerjaan lainnya yang lebih penting, seperti mengangkat telepon dan membantu tamu mencari kamar di hotel.

 

#5 Memanfaatkan Augmented Reality

Penggunaan teknologi augmented reality ini sudah bisa kita temukan pada di toko furnitur kenamaan, IKEA. Mereka mengembangkan sebuah aplikasi augmented reality yang menampilkan model tiga dimensi dari furnitur yang ingin mereka beli di rumah mereka sendiri.

Dengan teknologi ini, pelanggan dapat melihat bagaimana furniture ditata dalam ruangan supaya terlihat pas di ruangan pembeli dan bisa diamati dari berbagai sudut pandang dan intensitas pencahayaan ruangan. 

 

#6 Otomatisasi Aktivitas Bisnis Retail

Salah satu kelemahan dari bisnis retail dibandingkan dengan bisnis online adalah pembukuan yang dilakukan secara manual serta laporan dan pendataan yang masih dilakukan menggunakan kertas.

Namun untungnya kini sudah cukup banyak industri retail yang mulai mengimplementasikan software pendukung kegiatan retail mereka.

Dengan bantuan software ini, para pelaku bisnis lebih tenang karena aktivitas bisnis retail mereka sudah terotomatisasi, sehingga mereka lebih fokus untuk memajukan bisnis mereka.

 

Melihat Electronic City: Pionir Bisnis Retail Elektronik Indonesia

Meski banyak bisnis retail yang berguguran pada tahun 2017 silam, Electronic City tetap mempertahankan kerajaan bisnisnya.

Salah satu perusahaan retail elektronik yang bisa disebut sebagai pionir bisnis retail elektronik Indonesia ini memulai sejarahnya pada tahun 2001. Electronic City memulai bisnis ritelnya dengan membuka toko pertamanya di SCBD atau Sudirman Central Business District.

Perkembangan bisnis Electronic City bisa dibilang cukup pesat, karena setelah membuka toko pertamanya Electronic City terus mengembangkan sayap. Electronic City kemudian membuka toko keduanya di luar wilayah Jabodetabek pada tahun 2004. Tepatnya di Denpasar.

Tidak berhenti sampai di situ, Electronic City pada tahun 2007 juga berkesempatan untuk mengoperasikan toko ritel terbarunya di kota Medan, Sumatera Utara.

Electronic City Perjalanan Pionir Bisnis Retail Elektronik Indonesia 02 - Finansialku

[Baca Juga: Mau Membeli Waralaba? Pertimbangan 6 Sumber Pendanaannya]

 

Tepat semenjak tanggal 03 Juli 2013, Electronic City sudah resmi menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia atau BEI dengan kode ECII.

Hal ini tentu menguatkan perjalanan bisnis perusahaan dengan melepas sebesar 25% dari seluruh modal ditempatkan. Penyetoran saham tersebut juga telah dipenuhi dengan penawaran umum harga per saham di angka 4.050 Rupiah.

Saat ini, Electronic City adalah salah satu perusahaan terdepan dan terbesar di bidang penjualan perangkat elektronik di Indonesia.

Per tahun 2018, Electronic City tercatat telah memiliki 53 unit toko retail yang tersebar di banyak kota besar pulau Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, dan juga Sulawesi.

Kesuksesan ini juga terefleksikan melalui berbagai apresiasi dari pihak bergengsi. Pada tahun 2013, Electronic City berhasil meraih penghargaan pada kategori Electronic Store dalam kurun waktu 5 tahun berturut-turut.

Penghargaan tersebut meliputi Penghargaan Top Brand oleh Frontier, Corporate Image Award, dan juga Superbrands Indonesia.

Tak hanya itu, inovasi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut juga berhasil membuahkan Social Media Award yang diberikan oleh Majalah Marketing dan Frontier serta Service Quality Award yang diberikan Markplus pada tahun 2013. 

 

Apa yang Ditawarkan Electronic City?

Tampak sangat jelas betapa Electronic City sudah terbentuk menjadi salah satu bisnis yang cukup solid. Hal tersebut tampak dari ragam produk dan layanan yang disediakan olehnya.

Electronic City memiliki beragam jenis produk yang ditawarkan kepada konsumen.

Ragam produk elektronik yang ditawarkan oleh Electronic City memiliki empat kategori yang berbeda, yakni peralatan elektronik video dan audio, produk rumah tangga, perangkat telepon seluler dan gawai, dan terakhir peralatan IT serta kebutuhan kantor.

Dengan banyaknya produk yang ditawarkan, Electronic City memiliki 11 lokasi gudang guna mendistribusikan produk.

Melalui keberadaan gudang yang strategis, diharapkan penyebaran produk yang dijajakan oleh Electronic City dapat dilakukan dengan efektif, efisien, dan tidak memerlukan biaya transportasi yang terlalu besar.

Melihat tingginya tingkat penjualan Electronic City, tentunya tidak terlepas dari strategi penjualan yang diterapkannya. Electronic City memiliki dua jenis penjualan berbeda yang disebut dengan istilah strategi dual-branding.

Dalam mengimplementasikan strategi tersebut, Electronic City memiliki dua jenis toko ritel yang berbeda, yakni Electronic City Store atau EC Store, dan EC Outlet atau Electronic City Outlet.

Electronic City Perjalanan Pionir Bisnis Retail Elektronik Indonesia 03 - Finansialku

[Baca Juga: Kalau Mau Sukses, Lakukan 5 Cara Jitu Ini! Sebelum Mulai Bisnis Waralaba]

 

Perbedaan keduanya terletak pada segmentasi target konsumennya. EC Store yang memiliki warna logo identik biru menargetkan konsumen dari kalangan menengah atas.

Konsep toko EC Store ini adalah yang paling banyak dimiliki oleh Electronic City dengan jumlah 45 unit yang telah beroperasi hingga Juni 2014. 

Sementara itu, untuk EC Outlet, logo yang dipasang identik dengan warna merah dan menargetkan konsumen dari tingkat pemula serta kalangan menengah.

Selain memiliki konsep penjualan EC Store dan EC Outlet, Electronic City juga meluncurkan produk e-commerce di situs resmi perseroan. Ini merupakan satu bentuk aplikasi tren industri retail tahun 2019 oleh Electronic City.

Tujuannya tentu adalah untuk memperluas pasar penjualan dan menggaet lebih banyak konsumen karena bisa memilih produk elektronik secara online.

Namun, perlu diketahui bahwa saat ini e-commerce milik Electronic City hanya menjajakan produk elektronik yang mudah dijual secara online dan tidak sulit untuk dikirim melalui jasa ekspedisi, seperti gadget, smartphone, dan juga kamera. Dengan begitu, ongkos kirim produk Electronic City yang berhasil terjual juga menjadi tidak terlalu mahal.

Electronic City Perjalanan Pionir Bisnis Retail Elektronik Indonesia 04 - Finansialku

[Baca Juga: Ikuti Cara Cerdas Ini Dalam Mengembangkan Bisnis Waralaba]

 

Satu hal terakhir yang cukup unik soal Electronic City yakni Electronic City juga menyewakan sedikit ruang di toko ritelnya untuk kebutuhan para vendor konsinyasi, pemasok, hingga untuk gerai makanan atau minuman.

Layanan pemberian jaminan penjualan dan jasa pengiriman produk ini menjadi salah satu cara Electronic City memperoleh pendapatannya. Cukup menarik bukan?

 

Yuk Jadikan Inspirasi!

Kami berharap kisah perjalanan bisnis retail elektronik Indonesia Electronic City ini dapat menjadi inspirasi Anda dalam berbisnis.

Meski kini persaingan industri retail semakin berat akibat tren belanja online, toh kita tetap bisa berusaha dan berjuang dalam persaingan tersebut.

Sebagai contohnya Electronic City yang terus mengembangkan perusahaannya hingga sekarang ini. Anda juga dapat mencontoh bagaimana strategi penjualan dan diversifikasi pendapatan yang dilakukannya.

Menurut kami, Electronic City merupakan salah satu bisnis retail yang cukup cerdas sehingga mampu bertahan hingga sekarang.

Jangan lupa untuk pakai Aplikasi Finansialku ya…

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa membagikannya kepada teman-teman Anda yang mungkin juga sedang kebingungan akan menjalankan bisnis retailnya di tengah persaingan ketat ini.

Share artikel ini via Whatsapp atau media sosial lainnya.

 

Disclaimer: Penyebutan merek pada artikel ini hanya bertujuan sebagai sarana edukasi, bukan untuk tujuan-tujuan lainnya.

 

Apakah Anda memiliki pertanyaan mengenai perjalanan pionir bisnis retail elektronik Indonesia: Electronic City lainnya? Tinggalkan komentar Anda di bawah.

 

Sumber Referensi:

  • Dias Marendra. 4 Februari 2019. 6 Tren Industri Retail di Tahun 2019. Hashmicro.com – https://bit.ly/2NCzQSP

 

Sumber Gambar:

  • Electronic City 01 – https://bit.ly/2C6PTD0
  • Electronic City 02 – https://bit.ly/36qfCEx
  • Electronic City 03 – https://bit.ly/2PJjn1O
  • Electronic City 04 – https://bit.ly/32aE61e