Di tengah situasi dan kondisi Covid-19 serta maraknya program vaksinasi, apakah saham KAEF masih layak untuk dibeli dan dimiliki?

Bagaimana strategi dan kinerja emiten KAEF untuk mengembangkan bisnisnya?

 

Profil Perusahaan KAEF: PT Kimia Farma Tbk.

Kimia Farma adalah suatu perseroan yang bergerak dalam bidang industri, pertambangan, perdagangan besar dan eceran, aktivitas kesehatan manusia,  pendidikan, aktivitas profesional, ilmiah dan teknis, aktivitas keuangan dan asuransi, pertanian, informasi dan komunikasi serta aktivitas jasa lainnya yang dihasilkan, dan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia.

[Baca Juga: Prospek Farmasi Di Tengah Pandemi: PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) – November 2020]

Tahun 2020 menjadi catatan penting dalam perjalanan PT Kimia Farma Tbk.

Seiring dengan terjadinya pandemi Covid-19, perseroan turut aktif membantu Pemerintah dalam menangani pandemi dan menjaga kesehatan serta keselamatan masyarakat.

Bersamaan dengan itu, di awal tahun 2020, perseroan juga bergabung dengan Holding BUMN Farmasi yang juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah untuk membangun industri kesehatan yang sehat dan memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh bangsa.

Pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan utama bagi Kimia Farma. Operasional perseroan secara umum mengalami perlambatan, baik dalam proses produksi, distribusi hingga aktivitas operasional lainnya.

Namun, perseroan tetap melakukan kinerja yang baik selama tahun 2020, perseroan juga bergerak aktif membantu Pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19.

Dengan kapasitas yang dimiliki, perseroan berhasil memproduksi Chloroquine yang cukup efektif bagi pasien Covid-19.

Fokus Vaksinasi, Saham KAEF Masih Worth to Buy_ 02

Apotek Kimia Farma. Sumber: Liputan6.com – https://bit.ly/3rgvAfe

 

Selain itu, perseroan juga memproduksi produk terkait Covid-19 lainnya, seperti favipiravir, remdesivir, vitamin, hand sanitizer, rapid test dan masker untuk meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat.

Emiten-emiten farmasi jelang vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021 termasuk PT Kimia Farma Tbk. fokus melakukan produksi dan distribusi produk kesehatan terkait Covid-19.

Sejumlah emiten farmasi terkena auto reject atas setelah sahamnya naik 25 persen pada perdagangan 11 Januari 2021. 

Saham farmasi diburu investor menjelang vaksinasi Covid-19, begitu juga saham emiten dengan kode KAEF ini yang naik 20% ke level 6.450 dan diperdagangkan senilai Rp 815 miliar.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ganti Winarno menuturkan KAEF berperan aktif dalam pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19 dengan memproduksi dan mendistribusikan produk-produk kesehatan terkait dengan Covid-19.

Selain memproduksi, KAEF juga mendistribusikan obat-obatan tersebut ke rumah sakit, baik Pemerintah maupun Swasta, Dinas Kesehatan dan klinik yang melaksanakan tata laksana terapi Covid-19 melalui anak usahanya, yaitu PT Kimia Farma Trading & Distribution.

 

Di sisi hilir, KAEF lewat anak usahanya juga, yaitu PT Kimia Farma Apotek juga melayani pelanggan melalui jaringan Apotek Kimia Farma di seluruh Indonesia, untuk memperoleh produk-produk kesehatan, antara lain multivitamin, masker, hand sanitizer, dan sebagainya.

Selain menyediakan produk kesehatan, KAEF juga menyediakan layanan kesehatan, antara lain pemeriksaan Covid-19 dengan rapid test antibody, rapid test antigen, swab PCR test yang dapat dilakukan di jaringan Laboratorium Klinik Kimia Farma.

 

Kinerja Keuangan PT Kimia Farma Tbk. (FY2021-Q1)

Berikut ini kinerja keuangan PT Kimia Farma Tbk. di antaranya:

  • Dari Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan Kuartal 1-2021 mencatatkan penurunan tipis atas aset sebesar 0,005% yang berasal dari Kas dan Setara kas dan Aset tidak lancar lainnya.
  • Untuk kondisi Liabilitas, KAEF turun 0,011% menjadi Rp 10,33 triliun dibandingkan dengan posisi Desember 2020 yang terdiri dari utang bank jangka pendek senilai Rp 4,3 triliun dan jangka panjang Rp 163 miliar pada Kuartal 1-202
  • Adapun pos ekuitas yang meningkat tipis 0,002% menjadi Rp 7,1 Kombinasi itu membuat aset perseroan turun tipis 0,19 % menjadi Rp 17,46 triliun.
  • KAEF berhasil menekan utang bank, beban pokok penjualan tercatat turun 0,04% menjadi minus Rp 1,46 triliun pada Kuartal 1-2021. Dengan demikian, emiten berkode saham KAEF itu mencetak penurunan laba bruto 0,03% per Kuartal 1-2021 menjadi Rp 830 miliar.
  • Beban keuangan KAEF naik 25,39% yoy menjadi Rp 447,75 miliar pada Kuartal 3- Akibatnya, perseroan membukukan penurunan laba sebelum pajak 32,97% secara tahunan menjadi Rp 69,41 miliar per 30 September 2020.
  • Pertumbuhan nilai yang signifikan atas revenue dan net profitnya. Saham ini tidak begitu terpengaruh oleh pandemi, mencatatkan penurunan penjualan neto hingga 4,25% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. Adapun sepanjang Kuartal 1-2021, KAEF mencatatkan penjualan hingga Rp 2,3 triliun. Padahal, pada Kuartal 1-2020, KAEF mampu mencetak penjualan hingga Rp 2,40 triliun.
  • Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tertekan hingga 33,90% yoy menjadi Rp 17,29 miliar. Sebelumnya, laba tahun berjalan KAEF tercatat Rp 26,16 miliar. Penurunan itu disebabkan oleh segmen distribusi dan ritel terdampak pandemi Covid-19. Pada Kuartal 1-2020, dampak pandemi Covid-19 baru dimulai pada awal Maret 2020 saat Warna Negara Indonesia pertama yang terinfeksi Covid-19 resmi diumumkan oleh pemerintah.  
  • Untuk Return on Equity KAEF, pada Kuartal 1-2021 ada di 0,24% yang artinya, di tahun ini KAEF tidak efisien dalam mengelola asset dan liabilitiesnya untuk mendapatkan profit di tengah kondisi pandemi saat ini.

[Baca Juga: Cara Mudah Membaca Laporan Keuangan Perusahaan]

 

Outlook PT Kimia Farma Tbk.

Saham emiten farmasi ini kembali melejit di kala vaksin semakin diberitakan rampung dan akan didistribusikan.

Saham emiten farmasi, seperti Kimia Farma dan Indofarma sempat naik tajam saat pengumuman pertama kali vaksinasi masal dan turun pasca vaksinasi perdana pada 13 Januari 2021, lalu kembali bergejolak sejak meledak kembali jumlah positif Covid-19 di Indonesia pada bulan Juli 2021.

Melonjaknya jumlah kasus Covid sejak semester kedua 2021 menyebabkan saham-saham farmasi dan rumah sakit jadi buruan, harganya melejit bahkan, beberapa di antaranya mengalami auto reject atas (ARA).

Kasus positif Covid-19 kembali memecahkan rekor dengan tambahan kasus harian, yaitu 54.517 pada Rabu (14/7).

Kini total kumulatif orang terpapar virus Corona di Indonesia mencapai 2.670.046 kasus. Sementara, kasus sembuh bertambah 17.762 orang sehingga total mencapai 2.157.363. Sedangkan, kematian bertambah 991 sehingga kumulatif menembus 69.210 orang.

[Baca Juga: Kasus Positif Meningkat, Rawat Inap Covid di RS Dipercepat]

Sementara itu, banyak pasien Covid-19 yang seharusnya bisa menjalani isoman di rumah tapi malah dirawat di rumah sakit. Selain itu, belakangan juga terjadi krisis oksigen di sejumlah rumah sakit.

Budi mengungkapkan bahwa Indonesia kekurangan sekitar 3.000 dokter untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendesak agar kebutuhan tenaga dokter harus segera dicarikan solusinya.

Pemerintah juga telah memutuskan penerapan PPKM Darurat sejak 3 Juli lalu hingga 20 Juli 2021 mendatang di Pulau Jawa dan Bali.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan 15 daerah di luar Jawa-Bali yang semua menerapkan PPKM mikro menjadi PPKM darurat.

Seiring lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia hingga menembus angka dua juta, saham-saham farmasi tampaknya mulai menjadi idola lagi di pasar saham. 

Selaku saham sang induk emiten pelat merah KAEF, yang terapresiasi 6,07%, melanjutkan kenaikan pada Jumat (9 Juli 2021) ketika ditutup menanjak 4,09%.

 

Diberitakan sebelumnya, awalnya pemerintah, melalui Kimia Farma, membuka akses vaksinasi berbayar untuk masyarakat mulai kemarin.

Untuk vaksin yang digunakan adalah Sinopharm. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ganti Winarno dan penggunaannya sesuai dengan keputusan pemerintah mengenai jenis vaksin yang digunakan.

PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) bakal mendatangkan 15 juta dosis vaksin Sinopharm. Dia menyampaikan bahwa vaksin Sinopharm merupakan vaksin asal China dengan platform inactivated yang telah menerima emergency use authorization dari Badan Kesehatan Dunia pada Mei 2021.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2021 tentang vaksinasi Covid-19 menetapkan jenis vaksin Sinopharm yang dipakai dalam program vaksinasi gotong royong baik perusahaan maupun individu.

Program vaksinasi gotong royong mandiri ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 19 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Permenkes No. 10/2021 tentang Pelaksanaan dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

Namun, presiden Joko Widodo memutuskan untuk membatalkan vakin Covid-19 berbayar bagi individu yang sebelumnya direncanakan akan disalurkan melalui PT Kimia Farma Tbk. (KAEF).

Seluruh vaksinasi akan tetap memakai mekanisme yang sudah berjalan sekarang, yaitu vaksinasi gratis bagi seluruh masyarakat. .

Mekanisme vaksinasi gotong royong dilakukan melalui perusahaan yang akan menanggung seluruh biaya vaksinasi bagi karyawannya.

Catalyst

Saham emiten farmasi PT Kimia Farma Tbk. ini masih menjanjikan terlebih di masa kebutnya vaksinasi masal di Indonesia.

Data BEI mencatat saham KAEF dalam sebulan terakhir masih mengalami penguatan hingga 35,3%, ditengah tingginya kasus Covid-19 dan mencapai rekor harian kasus sudah tembus 54.517 kasus (per 14 Juli 2021).

Dari keadaan terakhir pada 18 Juli 2021, Pemerintah memutuskan untuk menaikkan dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Penanganan Covid-19 saat pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat yang diperpanjang hingga akhir Juli 2021.

Sejak Juni 2021 saham anak usaha BUMN, Bio Farma ini terkerek sentimen program vaksinasi massal bagi rakyat Indoneisa, apalagi PT Kimia Farma menangani pendistribusian dan penyuntikan vaksin ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai ke wilayah timur Indonesia, di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Kegiatan vaksinasi tersebut merupakan bagian dari program vaksinasi gotong royong yang sebelumnya diresmikan Presiden Jokowi pada 18 Mei 2021.

Adapun Kimia Farma telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan produsen vaksin Sinopharm untuk impor 7,5 juta dosis pada program vaksinasi gotong royong.

Program vaksinasi yang diperuntukkan bagi karyawan dan buruh perusahaan ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, didukung berbagai pihak termasuk Bio Farma dan anak usahanya, Kimia Farma.

 

Kesimpulan: Worth to Buy??

Sektor consumer-farmasi digolongkan sebagai sektor yang defensif, turunnya daya beli masyarakat banyak sektor mengalami penurunan kinerja, namun KAEF cukup baik pada masa pandemi Covid-19 karena masih dapat mengatribusikan kepada pemilik entitas induk tertekan hingga 33,90% yoy menjadi Rp 17,29 miliar.

Sebelumnya, laba tahun berjalan KAEF tercatat Rp 26,16 miliar.

Prospek emiten ini cukup cerah, terlebih setelah adanya Covid-19, vaksin hingga kesadaran masyarakat akan kesehatan beserta produk kesehatan lainnya menjadi sentimen positif.

Emiten memiliki prospek yang bagus, kerja sama, strategi pemasaran yang diterapkan senantiasa ditinjau secara berkala hingga evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas keberlanjutan kinerja KAEF.

Sektor industri konsumsi adalah salah satu sektor yang cukup tahan dari resesi, namun tidak semua emiten di sektor ini memiliki fundamental dan kinerja yang cemerlang, yang pantas untuk dimasukkan ke dalam Long-term Investment.

Maka dari itu, analisis lebih lanjut sangat diperlukan, peluang bisnis di industri KAEF bisa jadi akan semakin menarik di tahun depan, jika KAEF berhasil mendistribusikan vaksin dan menyelesaikan permasalahan terkait impor bahan baku, selalu berinovasi sesuai dengan permintaan market global dan nasional.

Jika Anda tertarik untuk berdiskusi mengenai emiten dan investasi saham lebih dalam, Anda bisa bergabung dengan ratusan orang lainnya dalam grup belajar saham Finansialku.

Komunitas ini dibimbing oleh CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, ST., MBA, CFP®, QWP bersama Rivan Kurniawan, ahli dan praktisi investasi saham.

Klik banner berikut ini untuk bergabung!

komunitas saham

 

Disclaimer on: Tulisan ini untuk EDUKASI, bukan SARAN INVESTASI. Penulis memegang saham KAEF. Penulis tidak terafliasi dengan perusahaan yang disebutkan atau anak usaha. Penyebutan nama saham tidak bermaksud memberikan opsi buy/sell ataupun rekomendasi untuk saham tertentu. Artikel menunjukkan fakta dan analisis dari penulis berdasarkan laporan keuangan yang diambil dari sumber dianggap terpercaya. Data dapat berubah tergantung kondisi. Seluruh tulisan dan tanggapan adalah opini pribadi.

 

Itulah analisis mengenai emiten farmasi KAEF dan prospeknya ke depan yang bisa membantu pertimbangan investasi Anda. Punya pertanyaan? Anda bisa tanyakan dalam kolom komentar.

 

Editor: Eunice Caroline

Sumber Referensi:

  • Kontan.co.id
  • Market.bisnis.com
  • CNN Indonesia
  • RTI
  • Financial Report Q1 PT Kimia Farma Tbk, 2021 (kimiafarma.co.id)

 

Sumber Gambar:

  • Cover – https://bit.ly/3kxd4Or