Ada banyak metode valuasi saham tapi apa saja kira-kira metode valuasi yang dapat digunakan seorang investor awam?

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Logo Rivan Kurniawan

 

Apa Itu Valuasi?

Secara singkat, valuasi dapat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk mengetahui nilai (value) dari suatu aset.

Contoh, jika kita ingin mengetahui nilai (harga), misalnya suatu rumah, maka kita mengundang penilai (appraiser) yang cakap dan ahli di bidang ini untuk menilai berapa harga rumah tersebut di harga pasar.

Dalam melakukan penilaian, tidak aneh biasanya jika terjadi perbedaan antara satu penilai dengan penilai yang lain.

Nah, di dalam berinvestasi saham, valuasi juga memiliki arti yang sama. Valuasi saham digunakan untuk mengetahui berapa sebenarnya “harga wajar” suatu saham. Bedanya, valuasi dapat dilakukan dan dipraktikkan oleh tiap investor.

Core Stocks VS Value Stocks, Mana yang Lebih Baik Dikoleksi_ 01

[Baca Juga: Cerita Pribadi Saya Sukses Investasi Saham]

 

Sama seperti rumah tadi, valuasi yang dilakukan antar investor dapat memiliki hasil yang berbeda-beda juga tergantung dengan sudut pandang, maupun metode yang digunakan oleh tiap investor.

Dalam memvaluasi saham, ada banyak sekali metode valuasi saham yang bisa kita terapkan.

Meskipun kata ‘valuasi’ terdengar cukup berat dan merepotkan, tapi ternyata ada juga lho metode-metode valuasi saham yang dapat dengan mudah kita gunakan.

Pada kesempatan kali ini Penulis ingin membagikan beberapa metode valuasi saham sederhana yang dapat Anda terapkan dalam berinvestasi di Pasar Modal.

 

Metode Valuasi Sederhana yang Sering Digunakan Investor 

Price to Earning Ratio (PER)

Rasio P/E (x) adalah salah satu tools indikator yang sangat sederhana, yang digunakan untuk menentukan apakah suatu saham termasuk ke dalam kategori “mahal” atau “murah”.

PER adalah rasio keuangan yang didapatkan dari perbandingan harga saham dengan Earnings per Share (EPS).

Earnings per Share sendiri adalah Laba Bersih per Lembar Saham. Anda dapat menghitung Earnings per Share secara sederhana, yaitu dengan membagi Laba Bersih dengan Jumlah Lembar Saham.

EPS 1

 

Rasio PER digunakan untuk melihat apakah suatu saham dihargai dengan undervalued atau overvalued – tetapi hanya berfokus pada laba bersih (earnings) yang tercatat di income statement.

Maka PER dapat dihitung dengan menggunakan formula:

PER 1

 

Agar dapat lebih mudah dipahami, Penulis akan memberikan contoh kasus perhitungan untuk menghitung Price to Earnings Ratio (PER):

Perusahaan A mencatatkan kinerja sebagai berikut sampai dengan Q3 2019:

Laba Bersih: Rp 100 Miliar

Jumlah Saham Beredar: 1 Miliar Lembar

 Maka Earnings Per Share:

= Rp 100 Miliar/1 Miliar Lembar

= Rp 100 per lembar saham

 

Harga saham: Rp 1.000 per lembar saham

Maka Price to Earnings Ratio

= Rp 1000 / Rp 100

= 10x

Maka didapatlah PER dari perusahaan A adalah: Rp 1.000 / Rp 100 = 10x

 

Pengertian PER 10x di sini adalah seorang investor membutuhkan waktu sekitar 10 tahun (dengan asumsi laba bersih tetap) agar investasi dapat balik modal.

Artinya, semakin kecil nilai PER suatu perusahaan, semakin baik.

Karena tingkat return yang dihasilkan lebih cepat, dan hal inilah yang melandasi pernyataan jika PER suatu perusahaan yang kecil diartikan sebagai harga perusahaan tersebut masih “murah”.

 

Dua Cara Membandingkan Valuasi

  • Membandingkan dengan Rata-Rata Industri

Tetapi, untuk menentukan value sebuah perusahaan dengan menggunakan PER, harus dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain yang sejenis.

Sebagai contoh, mari kita membandingkan perusahaan-perusahaan yang berada dalam sektor yang sama. Penulis di sini memilih sektor consumer goods.

Kode Ticker Saham

Price to Earnings Ratio

(per penutupan 18 November 2019)

PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) 43,77x
PT Aces Hardware Indonesia Tbk. (ACES) 29,82x
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. ( ICBP) 25,68x
PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) 33,85x
AVERAGE 33,53x

Dari data di atas, terlihat perusahaan-perusahaan di atas memiliki rasio PER yang cukup tinggi di 43,77x di bandingkan dengan perusahaan lain yang PER-nya setelah dirata-ratakan berada di angka 33,53x.

Nah, angka rata-rata ini dapat menjadi patokan bagi investor untuk menentukan apakah suatu perusahaan dapat dikatakan mahal atau tidak.

Sebagai contoh lain, ACES memiiki per sebesar 29,82x, yang notabene masih berada di bawah PER rata-rata (33,53x).

 

  • Membandingkan dengan Historical PER Sebelumnya.

Di luar menggunakan PER rata-rata industri, PER juga dapat digunakan dengan melihat historikal PER dari perusahaan yang bersangkutan.

Jika PER yang sekarang lebih rendah daripada PER yang sebelumnya, dapat diasumsikan price yang sekarang sudah cukup murah dan harga dapat berbalik ke arah PER yang tinggi tadi sebelumnya.

Tetapi, tentu saja tetap harus memperhatikan kinerja operasional perusahaan juga, tidak hanya terpaku pada rasio saja.

Data PER Historical milik AUTO

 

Memang kelebihan dari menggunakan P/E Ratio adalah cepat dan efisien dalam menghitung valuasi.

Tetapi, di luar itu P/E Ratio masih memiliki kelemahan juga seperti perhitungannya hanya memperhitungkan harga dan pendapatan. Perusahaan dapat mematipulasi pendapatan, dan hal itulah yang harus diwaspadai oleh para investor.

 

Price to Book Value (PBV)

Sama seperti PER, PBV merupakan rasio yang digunakan untuk menilai valuasi suatu perusahaan.

Hanya saja, yang dinilai dari PBV adalah rasio perbandingan antara harga saham dengan nilai buku suatu perusahaan, berbeda dengan PER yang membandingkan harga dengan laba bersih per lembar saham (EPS) perusahaan.

Nilai buku (Book Value) suatu perusahaan didapatkan melalui perbandingan antara jumlah ekuitas dengan jumlah saham yang beredar.

PVB

 

Setelah mengetahui berapa Book Value dari perusahaan tersebut, barulah dapat menghitung berapa PBV perusahaan. Umumnya, rasio PBV yang dianggap baik adalah yang di bawah < 2x.

Meskipun beberapa pengamat menilai rasio PBV yang baik di bawah 1x, namun Penulis melihat jika Rasio PBV berada di kisaran satu koma pun masih menarik, jika perusahaan bisa menghasilkan tingkat pengembalian modal yang cukup besar (let say ROE > 10%)

PVB 2

 

Tetapi, penggunaan PBV tidak hanya sampai di situ saja. Rasio PBV dapat digunakan sebagai perbandingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, tentu saja yang masih dalam satu sektor.

Sekali lagi, Penulis akan mengambil contoh dari sektor consumer goods.

Kode Ticker Saham

Price to Book Value

(per penutupan 18 November 2019)

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) 5,71x
PT Aces Hardware Indonesia Tbk. (ACES) 6,36x
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. ( ICBP) 5,23x
PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) 5,43x
AVERAGE 5,68x

 

Berikut penulis melampirkan data PBV dari perusahaan-perusahaan di sektor consumer goods. Terlihat, rata-rata rasio PBV dari saham-saham tersebut adalah sekitar 5,68x.

Artinya, saham-saham dengan rasio PBV di bawah 5,68x dapat dikatakan harga sahamnya relatif lebih murah dibandingkan rata-rata harga saham lain di sektor yang sama.

Agar dapat lebih mudah dipahami, Penulis akan memberikan contoh kasus perhitungan untuk menghitung PBV: 

Perusahaan A mencatatkan kinerja sebagai berikut sampai dengan Q3 2019:

Total ekuitas: Rp 800 miliar

Jumlah saham yang beredar: 1 Miliar lembar saham

 Maka Book Value Per Share:

= Rp 800 Miliar / 1 Miliar Lembar

= Rp 800 per lembar saham

 

Harga saham: Rp 1.000 per lembar saham

Maka Price to Book Value

= Rp 1000 / Rp 800

= 1,25x

 

Tetapi, apakah angka PBV perusahaan sebesar 1,25x sudah dapat dikatakan murah dan layak untuk dikoleksi? Semuanya tergantung lagi kepada kinerja perusahaan.

Jika Perusahaan bisa menghasilkan ROE 20%, maka PBV 1,25x dapat dikatakan murah. Namun jika ROE hanya 5%, maka PBV 1,25x tetap dikatakan mahal.

Selain itu, kita dapat membandingkannya dengan saham lain yang berada di satu sektor seperti yang telah dicontohkan oleh ilustrasi di atas.

 

Price to Cash Flow Ratio (PCFR)

Rasio PCFR digunakan investor untuk memvaluasi suatu perusahaan berdasarkan perbandingan antara harga dan cash flow yang dihasilkan per lembar saham perusahaan.

Rasio PCFR kerap disamakan dengan rasio PER, padahal keduanya cukup berbeda. Apabila di rasio PER kita lebih berfokus pada laba bersih (earnings), maka di PCFR lebih memperhatikan di bagian operating cashflow perusahaan.

Untuk menghitung Price to Cash Flow Ratio (PCFR), kita perlu menghitung Cash Flow per Share terlebih dahulu.

Cash Flow per Share (CFPS) suatu perusahaan didapatkan melalui perbandingan antara jumlah Operating Cash Flow dengan jumlah saham yang beredar.

Cah Flow per Share

 

Setelah mendapatkan Cash Flow per Share (CFPS), selanjutnya kita baru dapat menghitung Price to Cash Flow Ratio (PCFR).

Formula dalam menghitung PCFR adalah dengan membagi harga saham saat ini dengan operating cash flow per Share.

PCFR

 

Agar lebih dapat dipahami, Penulis akan memberikan ilustrasi dalam perhitungan mencari PCFR:

Perusahaan A mencatatkan kinerja sebagai berikut sampai dengan Q3 2019:

Operating Cashflow: Rp 200 miliar

Jumlah saham beredar: 1 miliar lembar

Maka Cash Flow Per Share:

= Rp 200 Miliar / 1 Miliar Lembar

= Rp 200 per lembar saham

 

Harga saham: Rp 1.000 per lembar saham

Maka Price to Book Value

= Rp 1000 / Rp 200

= 5,0 x

 

Maka, dapat dihitung rasio PCFR adalah Rp 1.000 dibagi dengan Rp 200 adalah 5x. Angka 5x ini dapat diinterpretasikan sebagai investor berani membayar Rp 5 untuk mendapatkan Rp 1 yang dapat dihasilkan perusahaan.

Memang secara konsep, tidak ada patokan tentang berapa PCFR yang baik dan berapa yang tidak. Namun Penulis menilai bahwa sama seperti PER, PCFR yang dianggap cukup murah adalah PCFR < 10x.

Dan dapat diasumsikan bahwa semakin rendah ratio PCFR, harga sahamnya semakin undervalued. Sebaliknya pula, semakin tinggi ratio PCFR, dapat dikatakan harganya semakin overvalued.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

9 Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

 

Kesimpulan

Ada banyak sekali metode valuasi saham yang digunakan investor. Beberapa yang paling umum digunakan adalah PER, PBV dan juga PCFR.

Sekali lagi, tidak ada satupun rasio yang paling baik, sama juga tidak ada satupun analisa yang paling baik di antara analisa yang lainnya.

Valuasi-valuasi tersebut bukan bersifat saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.

Tidak ada metode analisa maupun valuasi yang akurat 100%. Tetapi, dalam memvaluasi suatu perusahaan, setidaknya kita menjadi tahu tentang nilai suatu perusahaan, apakah sudah terlalu mahal atau tidak.

Sehingga dari sini dapat membantu analisa dan pengambilan keputusan kita dalam berinvestasi.

 

Itu dia metode valuasi yang bisa Anda gunakan untuk mengukur valuasi sebuah perusahaan. Apakah ini membantu Anda?

Jika artikel ini membantu, jangan lupa bagikan pada rekan-rekan Anda. Jika Anda memiliki pendapat lain, Anda bisa utarakan pendapat Anda melalui kolom komentar di bawah ini.

 

 

Sumber Referensi: