Hati-hati lho, kecanduan game sekarang sudah menjadi penyakit mental yang dinyatakan sendiri oleh World Health Organization (WHO).

Tentunya hobi bermain game sah-sah saja disalurkan, selama kamu bisa membatasinya sesuai waktu dan tempat. Namun bagaimana jika sudah kecanduan dan menjadi gangguan perilaku?

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Lifestyle (rev)

 

Hobi Main Game? Apakah Kamu Menderita Kecanduan Game?

Mengisi hobi atau waktu tentunya bisa dilakukan dengan berbagai macam aktivitas.

Mungkin ada yang suka membaca buku untuk menambah pengetahuan, ada yang lebih memilih untuk berbincang-bincang dengan teman, dan masih banyak lagi.

Tapi saya yakin bahwa salah satu yang menjadi favorit para pembaca tentunya bermain game. Namun apakah bermain game bisa berbahaya?

WHO, “Kecanduan Game (Game Disorder) Itu Penyakit!” 02 (1)

[Baca Juga: Temukan Cara Hebat untuk Menjadi Entrepreneur Kreatif dalam Mencapai Kesuksesan]

 

Sebenarnya bermain game tidaklah berbahaya, selama kamu bisa membatasinya sesuai waktu dan tempat. Namun bagaimana jika sudah kecanduan game?

“Ah, mana ada sih penyakit kecanduan game? Itu kan hanya hobi saja!”

 

Jika Anda berpikir demikian, cobalah simak artikel ini.

Beberapa waktu yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) resmi menetapkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental.

WHO menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases edisi 11 (ICD-11).

ICD merupakan sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO.

Pada 18 Juni 2018, WHO menerbitkan dokumen ICD-11, yang merupakan revisi dari dokumen sebelumnya, ICD-10 terbitan pada 1990.

Dokumen ini digunakan oleh para tenaga kesehatan untuk mengategorisasi berbagai penyakit dan kondisi kesehatan, dari melahirkan seorang bayi (JB20 Single Spontaneous Delivery), sakit flu (1E32 Influenza, virus not identified), hingga kecanduan game online (6C51 Gaming Disorder).

Berkaitan dengan kecanduan game, WHO memasukkannya ke daftar “disorders due to addictive behavior” atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

WHO, “Kecanduan Game (Game Disorder) Itu Penyakit!” 03

[Baca Juga: Benarkah Hobi Belanja Bisa Jadi Cara Mencapai Kebebasan Keuangan?]

 

Sayangnya, rancangan ICD itu ditolak mentah-mentah oleh organisasi industri permainan video, seperti Entertainment Software Association (ESA), yang enggan menerima keputusan WHO.

Dilansir dari Kotaku, ESA menilai standar resmi tersebut telah ‘serampangan’ meremehkan masalah kesehatan mental yang nyata, seperti depresi dan gangguan kecemasan sosial.

Meski demikian, WHO setuju untuk mengadopsi revisi ke-11 dari ICD. Berdasarkan revisi baru ini, maka kecanduan game telah dinyatakan sebagai penyakit dan ditambahkan ke dalam daftar resmi.

Sebanyak 194 anggota WHO telah menyetujuinya dalam World Health Assembly ke-72

Melalui pertemuan tersebut, WHO secara resmi mengumumkan bahwa ICD-11 akan mulai berlaku per 1 Januari 2022.

Jadi, apakah kamu kecanduan main game sampai lupa waktu, lupa makan, lupa tidur? Jika iya, kamu bisa saja menderita game disorder tersebut.

Seperti apa gangguan game disorder ini dan bagaimana mendeteksinya? Yuk lanjutkan membaca!

 

Mengenal Gangguan Kecanduan Game (Game Disorder)

Untuk bisa mendeteksi apakah kamu terkena gangguan kecanduan game (game disorder) ini, kamu perlu mengenalnya terlebih dahulu.

Secara umum, kecanduan game adalah kondisi dimana seseorang melakukan aktivitas bermain video game secara berulang dan berlebihan.

Melansir dari Science Alert, Selasa (19/6/2018), kecanduan game bisa disebut penyakit bila memenuhi tiga hal berikut ini:

  1. Seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game.
  2. Seseorang mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain.
  3. Seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.

 

WHO mengatakan, ketiga hal ini harus terjadi atau terlihat selama satu tahun sebelum diagnosis dibuat.

Selain itu, WHO mengatakan permainan di sini mencakup berbagai jenis permainan yang dimainkan seorang diri atau bersama orang lain, baik itu online maupun offline.

Meski demikian, bukan berarti semua jenis permainan bersifat adiktif dan dapat menyebabkan gangguan.

“Bermain game disebut sebagai gangguan mental hanya apabila permainan itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan.”

 

Contoh Gangguan Kecanduan Game (Game Disorder)

Jika kamu masih ragu dengan definisi dari gangguan kecanduan game ini, yuk melihat contohnya.

Beberapa waktu silam, ayah tiga anak berusia 35 tahun tewas setelah main game 22 jam non-stop. Kejadian ini terjadi di Amerika Serikat.

Contoh kedua muncul dari Republik Rakyat Tiongkok, dimana seorang pria berusia 20 tahun tewas akibat main game King of Glory sembilan jam setiap hari selama lima bulan.

Bisa dibilang kematian tersebut timbul akibat gangguan kecanduan game, dimana mereka menolak untuk berhenti bermain meski kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan lagi.

Cara Mudah Live Streaming Game di Facebook Lewat PC dan HP Android 01

 [Baca Juga: Konsultasi: Mengapa Harus Berinvestasi? Ini 3 Alasan Kamu Harus Berinvestasi (Khususnya Buat Kamu Para Fresh Graduate)]

 

Kecanduan game juga memicu tindakan kriminal.

Pernah dilaporkan ada kasus tujuh remaja yang mencuri uang, rokok, dan tabung gas di toko untuk membayar sewa alat game online dan dua remaja merampok penjual nasi goreng untuk mendapatkan uang yang dipakai main game online.

Tindakan kriminal ini tidak hanya dilakukan oleh remaja, tapi juga oleh orang dewasa.

Perilaku seperti ini mirip dengan perilaku pecandu narkoba yang seringkali mencuri uang keluarganya untuk membiayai kebiasaannya menggunakan narkoba.

Jadi, bisa disimpulkan gangguan kecanduan game sangat berbahaya karena bisa merusak akal sehat layaknya obat-obatan terlarang.

Sebenarnya bermain game bukanlah sesuatu yang buruk ketika kamu bisa membagi waktu dan keuanganmu.

Daripada waktumu habis untuk bermain game, lebih baik pakai sebagian waktu untuk berinvestasi, sehingga kamu bisa mendapat pemasukan pasif yang bisa mendukung main game kamu.

Kalau kamu tertarik, kamu bisa baca-baca buku investasi bagi pemula dari Finansialku berikut ini:

 

Prevalensi Kecanduan Game di Indonesia

Melansir dari Theconversation.com, ditemukan bahwa ada 45,3% dari 3.264 siswa sekolah yang bermain game online selama sebulan terakhir dan tidak berniat untuk berhenti.

Survei dilakukan dengan mengambil sampel di sekolah-sekolah di Manado, Medan, Pontianak, dan Yogyakarta pada tahun 2012.

Dengan menggunakan kriteria sendiri dan kriteria kecanduan judi, mereka menemukan 150 siswa (10,2%) dari 1477 siswa yang mungkin mengalami adiksi.

Lalu, dengan analisis statistik, mereka mendapati 89 (59,3%) dari 150 siswa yang mungkin mengalami adiksi tersebut dapat dikategorikan mengalami adiksi parah, dan sisanya mungkin dapat masuk kategori adiksi ringan.

Maka, dapat diperkirakan prevalensi orang yang mengalami kecanduan game di antara pemain game adalah sekitar 6,1% di Indonesia.

Game Online 01 - Finansialku

[Baca Juga: Para Karyawan, Menyiapkan Dana Pensiun, Menabung, dan Investasi saja Tidak Cukup! Mulai Buat Perencanaan Dana Hari Tua]

 

Data jumlah gamer di Indonesia yang tersedia hanya dikeluarkan oleh lembaga bisnis.

Data terbaru, pada 2017, menurut lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56% di antaranya laki-laki) di negeri ini, yang membelanjakan total US$880 juta.

Jumlah pemain game Indonesia merupakan terbanyak di Asia Tenggara, yang bermain game di telepon pintar, personal computer dan laptop, serta konsol.

Dengan prakiraan prevalensi 6,1% pemain game mengalami kecanduan, maka dapat diperkirakan bahwa saat ini terdapat 2,7 juta pemain game yang mungkin kecanduan. Nilai yang luar biasa bukan?

 

Deteksi Dini Gangguan Kecanduan Game (Game Disorder)

Apabila kamu curiga bahwa dirimu atau keluarga/teman menderita gangguan kecanduan game atau game disorder, sebaiknya lakukan deteksi dini untuk penanganan secepatnya.

Diagnosis kecanduan game dan penanganannya harus dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

Game Online 02 - Finansialku

[Baca Juga: Konsultasi: 3 Investasi yang Cocok untuk Pemula Tahun 2018, Apakah Bitcoin, Etherum dan Cryptocurrency Lainnya Termasuk?]

 

Tapi orang tua dan guru dapat menggunakan ciri pertama dari diagnosis kecanduan game untuk mengetahui apakah seseorang di dekatnya mungkin memiliki kecanduan game atau tidak.

Ciri yang mudah dikenali adalah orang kehilangan kontrol terhadap perilaku bermain game. Misalnya saja tidak mampu untuk berhenti bermain game meski untuk waktu singkat (misal 1 hari).

Jika kamu menemukan diri sendiri atau seseorang mengalami gejala tersebut, jangan ragu untuk meminta bantuan dari orang terdekat agar menjadi sumber dukungan emosional saat keinginan bermain game muncul dan Anda perlu menahan diri agar tidak bermain game.

Jika perlu, hubungi psikolog terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

 

Bagaimana tanggapanmu mengenai kecanduan game berikut ini? Anda bisa tinggalkan komentar Anda pada kolom di bawah.

Mungkin masih banyak orang yang butuh informasi ini namun belum mengetahuinya. Anda bisa membantu mereka mengetahuinya dengan share artikel ini.

 

Sumber Referensi:

  • Edo S. Jaya. 4 Juli 2018. WHO tetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental, bagaimana “gamer” Indonesia bisa sembuh?. Theconversation.com – http://bit.ly/2QhIrNR
  • Kumparan Sains. 27 Mei 2019. 2022, WHO Resmikan Kecanduan Game sebagai Penyakit. Kumparan.com – http://bit.ly/2rIOyjV
  • Kompas.com. 19 Juni 2019. WHO Resmi Tetapkan Kecanduan Game Sebagai Gangguan Mental. Sains.kompas.com – http://bit.ly/351CmZX

 

Sumber Gambar:

  • Kecanduan Main Game 01 – http://bit.ly/2q1PZJX
  • Kecanduan Main Game 02 – http://bit.ly/2rKqihv
  • Kecanduan Main Game 03 – http://bit.ly/32ErYWs