Bagaimana prospek saham BRI Syariah (BRIS) setelah lakukan merger dengan dua bank syariah BUMN lainnya.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Analisis Fundamental

Salah satu bank syariah milik BUMN yang ada di Bursa Efek Indonesia ini melesat hingga 566,7% sejak tahun lalu.

Emiten yang sudah dihargai 2100/lembar sahamnya ini melesat sejak kabar merger 3 bank syariah terbesar di Indonesia.

Bagaimana peluang hingga prospek di tahun depan terkait merger bank syariah BUMN, apakah emiten ini masih layak di investasikan?

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar namun hanya menjadi pasar untuk produk syariah, Indonesia memiliki potensi yang besar menjadi pemilik bank syariah terbesar di dunia.

Digitalisasi sektor keuangan syariah bisa menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan penghasilan tinggi pada 2045 sesuai visi-misi presiden.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng dalam rangkaian acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020 pada hari ini.

Analisa Saham_ Prospek Saham BRI Syariah (BRIS) Setelah Merger 02

[Baca Juga: Bank Syariah Indonesia, Bank Hasil Merger 3 Bank Syariah BUMN]

 

Menurutnya, luas pasar keuangan syariah di Indonesia tercermin dari keberadaan 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, lalu 163 bank perkreditan rakyat syariah dan 4.500 lembaga keuangan mikro syariah di seluruh Indonesia.

Dilansir dari bisnis.com, adanya bank syariah dengan size besar ini akan memulai langkah Indonesia untuk bisa menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia.

Mengingat Indonesia memiliki penduduk Islam terbesar namun masih tertinggal dari negara lainnya dalam hal ekonomi dan keuangan syariah.

Untuk mencapai perkembangan industri syariah yang ditargetkan pada 2024, pemerintah terus melakukan sosialisasi dan literasi.

BRIS beroperasi hampir 12 tahun, diamanahkan menjadi surviving entity (entitas yang menerima penggabungan) untuk merger Bank Syariah BUMN kali ini.

Menjadi pemenang Bisnis Indonesia Award 2020 dalam kategori Bank Syariah di tengah pandemi perseroan tetap tumbuh positif dari sisi aset, laba, DPK, dan pembiayaan.

BRI Syariah juga sudah naik kelas menjadi bank umum kegiatan usaha (BUKU) 3 sehingga tumbuh menjadi lebih besar.

Analisa Saham_ Prospek Saham BRI Syariah (BRIS) Setelah Merger 03

[Baca Juga: Hery Gunardi Resmi Diangkat Jadi Dirut Bank Syariah Indonesia]

 

Informasi dari Rapat Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank BRIsyariah Tbk. yang digelar 15 December 2020, bank hasil merger akan efektif pada 1 Februari 2021.

Proses merger melibatkan tiga bank syariah BUMN yakni PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

RUPSLB tersebut menetapkan 10 direksi dalam jajaran pengurus bank hasil merger. Mayoritas direksi berasal dari Mandiri Syariah, anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai pemegang saham bank hasil penggabungan sebesar 51,2%.

Kedua perusahaan tersebut telah disepakati untuk digabung ke dalam BRIsyariah dan akan beroperasi pasca tuntasnya proses merger dan persetujuan merger diperoleh dari regulator dengan nama baru, yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

RUPSLB turut menyetujui visi bank hasil penggabungan untuk menjadi 10 bank syariah terbesar di dunia.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

9 Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

 

Kinerja Keuangan Bank BRISyariah Tbk

Dilihat dari kinerja fundamentalnya yang masih dipertanyakan namun semakin menarik sejak kabar merger bank syariah, dilihat Aset sebesar Rp 56 triliun Q3 2020.

Revenue dan Net profit yang tumbuh hingga Rp 323 miliar di 2020 ini melesat 271%.

Kinerja keuangan BRI Syariah membukukan kenaikan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar 238% pada Q32020 dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy) dari Rp 56,46 miliar menjadi Rp 190,58 miliar.

Perolehan laba BRI Syariah tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil 39,63 % (yoy) pada Q3 2020 menjadi Rp 2,17 triliun.

Selain itu, BRI Syariah juga mencatatkan adanya kenaikan beban operasional pada Q3 2020 sebesar 25,81% (yoy) menjadi Rp 1,84 triliun.

Selama Q3 2020, BRI Syariah menyalurkan piutang senilai Rp 23,93 triliun, naik 71,06% dibandingkan posisi akhir tahun lalu (year to date). Penyaluran pembiayaan bagi hasil juga mengalami kenaikan pada Q32020 sebesar 29,12 % (ytd) menjadi Rp 15,23 triliun.

Jika melihat Liabilitas, wajar mengalami peningkatan karena dana pihak ketiga yang ada di bisnis perbankan. Dari Asset terlihat ada peningkatan hingga 30%, meningkatnya Piutang Murabahah, Kas, Piutang Sewa Ijarah, Pembiayaan Musyarakah.

Melihat Laporan Rasio Keuangan per September 2020, analisa Capital Adequancy Ratio (CAR) adalah salah satu indikator penting untuk industri perbankan, KPMM BRIS ada di 19,38% YoY, turun dari tahun sebelumnya, cukup bagus ditengah keadaan pandemi.

Semakin besar nilai KPMM akan semakin baik karena menunjukkan seberapa kuat modal suatu bank.

Jika turun secara signifikan, maka bisa diprediksi berisiko bangkrut karena tidak mampu membayar kewajibannya pada nasabahnya dari ketetapan yang diberikan Bank Indonesia minimal 8% untuk nilai CAR sebuah Bank.

Laporan Rasio Keuangan BRIS

Laporan Rasio Keuangan BRIS

 

Jika melihat poin nomor 2 dari Laporan Q3 2020 BRIS di atas, aset bermasalah ada di 3,96% ini artinya kualitas aset kurang aman, batas maksimal untuk nilai tersebut 3%.

Jadi, akan lebih baik jika nilainya rendah yang artinya kredit dari BRIS cukup lancar. Untuk Aset Produktif bermasalah jika dibandingkan bank konvensional, BRIS belum baik namun dibandingkan Bank Syariah plat merah lainnya BRIS masih lebih baik.

Untuk NPF (artinya: pinjaman yang tidak perform/menimbulkan kerugian), untuk NPF Gross 3,35% yang dinilai dari total Kredit yang diberikan.

NPF yang lebih tinggi dibanding dua bank syariah BUMN, ini menandakan Kredit macet BRIS lebih tinggi. NPF net ada di 1,73% dan NPF gross 3,35% yang dinilai tidak terlalu bagus. Idealnya suatu bank NPL harus kecil, untuk NPL Gross <2% dan NPL Net <1%.

Untuk ROA ada di 0,84% cukup bagus, karena idealnya ada di 1,50%, namun ROE Bank BRIS kecil ada di 8,74%, turun banyak dari tahun sebelumnya.

Idealnya ROE di 5,20% yang masih tertinggal dibanding Emiten Bank BNI Syariah dan Bank Mandiri Syariah menjadi pemilik ROE terbesar di sektornya, ini artinya BRIS masih kurang menguntungkan, labanya kecil jika dibanding bank syariah lainnya. 

Terkait harga wajar BRIS saat ini, jika dilihat PBV yang berada di 3,9x dan PER 81,23x, maka bisa dinilai BRIS mahal saat ini, harga BRIS yang melesat tinggi selama setahun ini dikarenakan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan syariah, adanya sentimen positif di pasar.

Untuk Net Imbalan cukup bagus, ada di 5,73% namun masih lebih baik Mandiri ada di 6,20% dan BNI Syariah di 6,34% (semakin tinggi akan semakin bagus untuk sebuah bank).

Laporan Rasio Keuangan BRIS 2

Laporan Rasio Keuangan BRIS

 

Untuk BOPO terlihat ada di 90,39%, akan semakin baik jika nilainya kecil dan bagus karena semakin efisien, idealnya ada di 80% dan posisi BRIS kurang menarik jika dibanding Mandiri syariah dan BNI Syariah. (Jika BOPO >100% ini artinya bank merugi).

Untuk LDR (perbandingan kredit yang diberikan dengan dana pihak ketiga yang diterima oleh bank) ada di 87,79%, idealnya LDR di rentang 90% – <100%. nilai ini disebabkan keadaan permintaan kredit yang masih lemah.

Namun ke depannya akan diprediksi pertumbuhan kredit indikasinya meningkat.

 

Analisis Teknikal Saham Bank BRIS

Perdagangan market 17 Desember 2020 tren IHSG kembali bullish hingga 0,32%. PT BRI Syariah dibuka pada level 2.120, kemudian penutupan Sesi I – naik 1,40% pada 2150.

Terlihat mengalami rebound dari level support-nya di May 2020 setelah kabar terkait merger diumumkan. Pada Awal Agustus 2020 terlihat mulainya aksi beli yang kuat terhadap emiten ini.

Teknikal BRIS

 

Untuk analisa teknikal short term terhadap emiten ini, dalam grafik kerangka waktu daily, BRIS satu tahun terakhir membentuk pola bullish berkelanjutan walaupun ada fluktuasi.

Indikator MACD berada di atas garis nol dengan sinyal buy yang masih kuat, ada kemungkinan akan terbentuk harga bullish terbatas jika pasar masih berharap BRIS untuk window dressing dan prospek di tahun depan.

Bagi yang sudah memiliki bisa hold jika percaya kepada emiten ini, terlebih melihat potensinya setelah merger pada 2021, akan ada efek dilusi terhadap persentase kepemilikan publik atas saham BRIS yakni 4,4% yang terjadi saat merger dilakukan nanti.

Free float di 7,5% di pasar demi likuiditas saham di pasar. Untuk short-term ini tidak terlalu berpengaruh kepada koreksi saham. Untuk long-term fundamentalnya ini tergantung proyeksi masa depan.

Indikator Stochastic menggunakan kerangka waktu daily terlihat sinyal overbought momentum.

Untuk menentukan open position, indikator EMA (20), EMA (50) dan EMA (100) masih membentuk pola bullish.

Jika potential gain masih ada, itupun sudah cukup terbatas, BRIS sudah menembus resistance-nya, untuk yang ingin take profit disarankan jika sudah berbalik arah mencapai support-nya di rentang harga 1559-1400.

 

Outlook PT Bank BRIsyariah Tbk

Di tengah keadaan ekonomi yang bergerak dinamis dan ketidakpastian perubahan dunia karena Covid19, sektor finance memang cenderung mengalami perlambatan namun Bank BRI Syariah melesat dan menembus harga tertingginya secara berkelanjutan atas merger/penggabungan BRIS, BNIS, dan BSM dilakukan untuk menciptakan Bank Syariah berskala besar untuk meningkatkan penetrasi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

BRIS tumbuh agresif sejak Maret-Desember 2020. Nilai LDR yang turun akibat tersendatnya penyaluran kredit, seperti bank umum lainnya. BRIS memiliki kualitas fundamental yang tidak sebagus Mandiri Syariah dan BNI Syariah, prospek setelah merger yang diprediksi akan mempengaruhi industri perbankan syariah.

BRIS adalah salah satu emiten yang cocok untuk disimpan untuk long-term investment, jika melihat prospek merger 3 Bank Syariah BUMN.

Analisa Saham_ Prospek Saham BRI Syariah (BRIS) Setelah Merger 04

[Baca Juga: Prospek Bisnis Petrokimia PT Barito Pacific Tbk (BRPT)]

 

Dari hasil RUPSLB pada 15 Desember lalu, diputuskan Bank Syariah Indonesia- Bank hasil penggabungan memiliki total aset mencapai Rp 214,6 triliun. Adapun, modal inti sebesar Rp 20,42 triliun atau bank BUKU III.

Di segmen konsumer dan ritel, bank hasil merger akan memperkuat pembiayaan berbasis payroll, serta pembiayaan otomotif dan KPR dengan biaya yang lebih kompetitif karena cost of fund rendah.

Pihaknya juga akan menyukseskan program pemerintah melalui KUR dan kredit mikro untuk mendorong UMKM.

Pengembangan digital banking ditingkatkan untuk menjangkau user aktif lebih banyak dan peningkatan fitur seperti cicil emas dan gadai emas yang menjadi produk primadona di Mandiri Syariah.

Dari sisi kantor cabang, bank akan me-rebranding ulang 1.200 kantor cabang sekaligus memperbarui model bisnis dan bisnis proses.

Keunggulan yang dibawa masing-masing bank induk yakni BRI dengan segmen mikro, BNI segmen konsumer dan Bank Mandiri segmentasi wholesale, akan mendorong kompetisi yang semakin lengkap.

Proses merger bank syariah milik Himbara telah mencapai tahap penandatanganan akta penggabungan oleh Dirut BRIsyariah, Dirut BNI Syariah, dan Dirut Mandiri Syariah.

Selanjutnya, proses merger hanya menunggu izin regulator kemudian pelaksanaan legal merger pada Februari 2021.

Setelah adanya penggabungan nanti, porsi kepemilikan terbesar dipegang oleh bank Mandiri Syariah, BSM berhak atas 33,2672 saham tambahan di BRIS (yang mencakup total penambahan 20.905.219.412 saham di BRIS), yang merepresentasikan 51,2% peningkatan modal di Bank yang Menerima Penggabungan.

Analisa Saham_ Prospek Saham BRI Syariah (BRIS) Setelah Merger 05

 

Analisa Saham_ Prospek Saham BRI Syariah (BRIS) Setelah Merger 06

 

Disclaimer on: Penyebutan nama saham tidak bermaksud memberikan opsi buy/sell atau pun rekomendasi untuk saham tertentu. Artikel menunjukkan fakta dan analisa dari penulis berdasarkan laporan keuangan dan diambil dari sumber dianggap terpercaya. Data dapat berubah tergantung kondisi. Seluruh tulisan dan tanggapan adalah opini pribadi.

 

Itulah analisa saham BRIS dan prospeknya ke depan yang bisa membantu pertimbangan investasi Anda. Punya pertanyaan? Anda bisa tanyakan dalam kolom komentar.

Anda juga bisa bergabung dalam grup komunitas belajar saham Finansialku untuk info terbaru dan diskusi mengenai saham dengan praktisi dan pakarnya.

 

 

Sumber Referensi:

  • Aplikasi IPOTGO
  • Annual Report Bank BRIS. 2019 (www.idx.co.id)

 

Sumber Gambar:

  • Aplikasi ChartNexus
  • Financial Report Bank BRIS
  • Consolidated Financial Statements Bank BRIS, June 2020
  • RTI Business
  • https://bit.ly/3r1Gl4u
  • http://bit.ly/3gX234R
  • http://bit.ly/3r3HkRG