Muak dengan sekolah? Ini para wirausahawan yang meninggalkan pendidikannya demi membangun bisnis. Setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda dalam hidupnya. Ada yang mengutamakan pendidikan, ada juga yang tidak. Apakah pendidikan menjamin kesuksesan seseorang? Mari simak artikel berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Pendidikan Tinggi = Sukses?

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap pendidikan. Anda mungkin sering mendengar ucapan ini dari orang-orang tua:

“Kamu harus sekolah tinggi agar menjadi orang sukses nanti”

 

Bagaimana menurut Anda sendiri? Apakah pernyataan ini benar adanya? Nyatanya tidak semua orang yang memiliki pendidikan tinggi bisa menjadi orang sukses. Sebaliknya tidak semua orang yang tidak berpendidikan tinggi tidak menjadi orang yang sukses. Kenyataannya ada banyak wirausahawan sukses yang meninggalkan pendidikannya demi membangun bisnis.

Infografis Muak dengan Sekolah Ini Para Wirausahawan Sukses yang Meninggalkan Pendidikannya 02 - Finansialku

[Baca Juga: Ingin Menjadi Entrepreneur? Mudah, Ini Cara Mendapatkan Dana Modal Bisnis]

 

Berikut adalah daftar para wirausahawan dunia yang meninggalkan pendidikannya untuk fokus membangun bisnis:

  • Milton Hershey (pendiri Hershey’s Chocolate)
  • Marcus Loew (pendiri MGM Studios)
  • Amadeo Giannini (pendiri Bank of America)
  • Anne Bailer (pendiri Auntie Anne’s Pretzels)
  • Dave Thomas (pendiri Wendy’s)
  • David Karp (pendiri Tumblr)
  • Hayman Golden (pendiri Snapple)
  • Gurbaksh Chalal (pendiri BlueLithium)
  • Steve Jobs (pendiri Apple)
  • Mark Zuckerberg (pendiri Facebook)
  • Bill Gates (pendiri Microsoft)
  • John Mackey (pendiri Whole Foods)

 

12 wirausahawan ini adalah sedikit contoh dari ribuan wirausahawan lainnya yang meninggalkan pendidikan formalnya tetapi mampu membangun sebuah kerajaan bisnis raksasa. Pada dasarnya pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang.

Misalnya kita lihat kisah Milton Hershey. Ia meninggalkan bangku pendidikan formalnya sejak usia 9 tahun. Hal ini dikarenakan kondisi keuangan keluarga tidak mendukung. Untuk itu ia harus meninggalkan sekolah dan segera bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Pada masa itu memang sudah wajar jika anak dalam keluarga membantu orangtua bekerja di perkebunan.

Tetapi Milton Hershey kecil diminta untuk bekerja pada perusahaan milik orang lain. Ia mencoba bekerja di perusahaan percetakan koran. Tetapi Milton merasa bahwa pekerjaan itu tidak sesuai dengan ketertarikannya. Suatu hari karena sebuah masalah, ia dipecat dari pekerjaan di perusahaan percetakan.

Infografis Muak dengan Sekolah Ini Para Wirausahawan Sukses yang Meninggalkan Pendidikannya 03 - Finansialku

  [Baca Juga: Jangan Lakukan Kesalahan yang Sama! Para Entrepreneur, Hindari 4 Nasihat Buruk Ini]

 

Ketika diberikan kesempatan kedua untuk bekerja di perusahaan yang sama, keluarganya memiliki ide lain untuk mempekerjakan Milton pada perusahaan permen.

Dengan pengalaman kerja di perusahaan permen, Milton belajar untuk membuat usahanya sendiri. Sedikit demi sedikit ia meniti bisnisnya hingga bisa menjadi sebuah perusahaan Hershey’s Chocolate yang kini dikenal dan digemari di seluruh dunia. Padahal Milton Hershey tidak pernah mengenyam pendidikan sarjana, apalagi pascasarjana. Lalu apa yang membuatnya sukses?

Milton Hershey terbiasa untuk bekerja keras sejak seharusnya masih duduk di bangku SD. Ia terbiasa dengan lingkungan yang keras, jika tidak bekerja kerasa maka ia dan keluarganya tidak bisa hidup. Begitu ekstrem kondisi yang dihadapinya sehingga ia menjadi orang yang tangguh dalam menghadapi segala risiko kehidupan.

Penderitaan dan kesulitan adalah salah satu motivasi yang bisa membuat orang mencapai titik terendah dalam kehidupannya atau bisa kita sebut rock bottom. Roda kehidupan selalu berputar. Ketika sudah mencapai rock bottom, tidak ada lagi fase yang lebih rendah. Sehingga satu-satunya jalan adalah menuju ke atas. Ketika seseorang sudah mencapai rock bottom, ada kemungkinan ia akan hancur berantakan atau sebaliknya menjadi seseorang yang sangat sukses.

10 Fakta Unik tentang Kecerdasan Emosional yang Mungkin Tidak Diketahui Para Entrepreneur 01 - Finansialku

[Baca Juga: 10 Fakta Unik tentang Kecerdasan Emosional yang Mungkin Tidak Diketahui Para Entrepreneur]

 

Kisah Milton Hershey berbeda dengan Mark Zuckerberg. Jika Milton Hershey terpaksa meninggalkan pendidikan formalnya karena kesulitan keluarga, Mark Zuckerberg meninggalkan pendidikannya atas dasar pilihannya sendiri. Mark Zuckerberg adalah seorang jenius yang selalu memiliki performa brilliant dalam pendidikan formalnya.

Ketika mencapai usia kuliah ia bahkan berhasil diterima di salah satu sekolah terbaik di dunia yaitu Harvard University. Bisakah Anda bayangkan berapa juta orang di seluruh dunia yang bermimpi untuk masuk ke Harvard University? Tetapi ketika sudah masuk, Mark Zuckerberg justru memilih untuk meninggalkan Harvard University agar bisa fokus mengerjakan projek yang diyakininya dapat berhasil.

Pada saat itu Mark Zuckerberg tentunya berada pada dilema yang mendalam apakah harus melanjutkan pendidikannya atau fokus pada projek yang dikerjakan. Tetapi pada akhirnya ia lebih memilih mengerjakan karyanya sendiri, daripada melanjutkan pendidikan yang diidam-idamkan jutaan orang di dunia tersebut. Karena itu motivasi kedua adalah keyakinan terhadap bisnis yang dikerjakan.

 

Bagaimana Pendidikan Mempengaruhi Kesuksesan Seseorang?

Mengapa tokoh-tokoh wirausahawan di atas dapat mencapai kesuksesan tanpa pendidikan formal? Seperti yang telah dibahas tadi ada 2 jenis motivasi yang membuat seseorang berani meninggalkan pendidikan formalnya. Baik itu karena kesulitan atau karena keyakinan yang benar-benar kuat akan apa yang dikerjakan. Tetapi apapun motivasinya, ada satu kesamaan yang selalu dimiliki wirausahawan sukses manapun di dunia, yaitu kerja keras.

Temukan Cara Hebat untuk Menjadi Entrepreneur Kreatif dalam Mencapai Kesuksesan 01 - Finansialku

[Baca Juga: Temukan Cara Hebat untuk Menjadi Entrepreneur Kreatif dalam Mencapai Kesuksesan]

 

Pada dasarnya hanya orang-orang yang bisa bekerja keraslah yang bisa menjadi orang sukses. Di samping kerja keras ada banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi. Mulai dari peluang di sekitar, kemampuan orangtua, koneksi, bahkan hingga keberuntungan. Ada orang-orang yang sudah bekerja keras seumur hidupnya, tetapi tidak pernah menjadi orang sukses. Kesuksesan itu juga tergantung kemampuan Anda melihat peluang dan keberanian untuk mengambil risiko. Tetapi jika Anda bukan orang yang suka bekerja keras, sudah pasti Anda tidak akan pernah menjadi wirausahawan sukses.

Berwirausaha adalah sebuah keputusan yang sangat berisiko. Seberapa kecil pun bisnis yang ingin dijalankan akan lebih membebankan Anda daripada jika bekerja di perusahaan orang lain. Ketika sudah memutuskan untuk menjadi wirausahawan, Anda harus siap ‘bekerja’ 24 jam. Hal ini dikarenakan risiko bisnis yang bisa terjadi kapan saja dengan nominal kerugian yang tidak terduga-duga.

Faktor-faktor kesuksesan dalam berwirausaha ini tidak selalu bisa didapatkan pada pendidikan formal. Seringkali Anda lebih berpeluang mempelajarinya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang belajar di sekolah bisnis terbaik di dunia pun belum tentu bisa menjadi seorang wirausahawan yang sukses. Jika ia tidak mampu bekerja keras, mengambil peluang yang tepat serta berani mengambil risiko.

Para Entrepreneur, Inilah Ciri Pemimpin Yang Gagal dalam Kesuksesan 01 - Finansialku

[Baca Juga: Para Entrepreneur, Inilah Ciri Pemimpin Yang Gagal dalam Kesuksesan]

 

Memang pendidikan formal dapat membuka banyak peluang. Setidaknya pendidikan yang baik dapat mengamankan posisi Anda. Kemungkinan besar setelah lulus kuliah Anda akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan daripada mereka yang tidak memiliki pendidikan yang baik. Sayangnya keamanan ini seringkali membuat seseorang terjebak dalam zona nyaman. Akhirnya ia justru tidak berani mengambil risiko berbisnis.

Mari kita kembali lihat Mark Zuckerberg. Ia berani mengambil risiko yang sangat tinggi ketika memutuskan untuk fokus mengembangkan Facebook. Pendidikan formal yang diidamkan jutaan orang, peluang kesuksesan dan gaji besar yang bisa didapatkannya setelah lulus kuliah, semua menjadi taruhan. Tetapi bayangkan jika saat itu Mark Zuckerberg mengorbankan mimpinya dan terus mengikuti ‘arus utama’ atau menjadi seseorang yang mainstream. Mungkin saja hari ini kita tidak bisa menikmati Facebook.

Sekalipun Mark Zuckerberg telah memiliki ide Facebook, tetapi jika ia tidak berani mengambil risiko saat itu, kemungkinan besar ia akan terjebak di zona nyaman. Bisa jadi setelah lulus dari Harvard ia akan bekerja di perusahaan ternama dan mendapatkan gaji yang besar. Tetapi tidak lagi berani dan berminat untuk bersusah payah mengejar mimpinya.

10 Cara Berwirausaha dan Pelajaran Entrepreneurship yang Perlu Anda Ketahui 01 - Finansialku

[Baca Juga: 10 Cara Berwirausaha dan Pelajaran Entrepreneurship yang Perlu Anda Ketahui]

 

Membayar Harga yang Mahal

Pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang. Namun bukan berarti melihat kenyataan ini Anda bisa dengan mudah memutuskan untuk keluar dari pendidikan formal yang saat ini sedang dijalani. Memang pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang dalam berwirausaha. Anda bisa saja keluar dari pendidikan formal dan memutuskan untuk fokus pada bisnis. Tetapi ingat pada saat itu Mark Zuckerberg dan para wirausahawan sukses lainnya harus membayar harga yang sangat mahal. Ini adalah keputusan hidup dan mati. Jika Anda memutuskan untuk meninggalkan pendidikan, pastikan Anda siap berjuang sekuat tenaga untuk menjadi wirausahawan sukses. Tetapi jika Anda setengah hati melakukannya, sama saja Anda sedang mengambil langkah bunuh diri.

 

Pelajaran apa yang bisa diambil dari tokoh-tokoh yang telah di sebutkan? Berikan komentar dan pendapat Anda pada kolom di bawah ini, terima kasih.

 

Sumber Gambar:

  • Entrepreneur – https://goo.gl/u1VHzT
  • Para Entrepreneur – https://goo.gl/eXcGqr

 

Download Ebook Investasi Reksa Dana untuk Pemula

Download Panduan Berinvestasi Reksa Dana untuk Pemula Finansialku.com

Download Ebook Reksa Dana