Sudahkah Anda mengetahui arti dari istilah komoditas delisting? Komoditas seperti apa sih yang bisa dikategorikan sebagai komoditas delisting?

Ingin tahu jawabannya? Mari simak ulasan selengkapnya dalam artikel Finansialku berikut ini. Selamat membaca!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Penyebab Delisting

Pasar komoditas mencakup berbagai sektor seperti logam mulia, energi, dan agrikultur. Masing- masing sektor terdiri dari berbagai produk komoditas yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Namun rupanya ada juga berbagai komoditas “unik”, bahkan aneh, yang jarang ada bahkan tidak disangka-sangka. Beberapa contohnya yaitu komoditas cuaca, minuman jus, keju, dan sebagainya.

Komoditas yang jarang ditemui sehari-hari tersebut biasanya memiliki likuiditas rendah sehingga berpotensi tidak lagi ditransaksikan di masa depan (delisting). Mungkinkah produk komoditas andalan Anda saat ini akan tetap ditransaksikan di masa depan? Bagaimana menghindari membeli atau investasi pada komoditas ilikuid?

Komoditas Delisting 02 - Finansialku

[Baca Juga: 10+ Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan 2019 Lewat Internet]

 

Delisting merupakan kondisi di mana suatu instrumen khususnya komoditas tidak lagi diperdagangkan di pasar bebas.

Umumnya suatu komoditas yang akan delisting mengalami proses pembekuan terlebih dahulu atau di-suspend transaksinya.

Karena kurangnya peminat transaksi yang ditandai dengan nilai transaksi terlalu kecil bahkan tidak ada transaksi dalam jangka waktu panjang.

Volume transaksi yang kecil, tidak ada aktivitas transaksi yang berarti membuat instrumen tersebut tidak likuid (ilikuid).

Seperti yang kita ketahui pasar yang baik adalah pasar yang likuid sehingga transaksi lancar.

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Contoh Komoditas Delisting

Mengingat sifatnya yang tidak likuid, komoditas ini pun sudah banyak ditinggalkan dan tidak dilirik lagi.

Nah, berikut ini beberapa contoh komoditas yang sudah di-delisting:

 

#1 Udang

Kontrak berjangka udang pertama kali launching pada tahun 1993 pada Minneapolis Grain Exchange, Amerika Serikat.

Hal ini didasari kondisi saat itu tersedia udang fisik dalam jumlah sangat besar di AS.

Pada saat itu jenis udang yang ditransaksikan adalah udang putih dan udang macan hitam.

Namun sayangnya kontrak berjangka ini gagal menarik pelaku pasar, sehingga jumlah transaksi kecil dan transaksi terakhirnya pada 10 Januari 2002.

 

#2 Gandum Laut Hitam (Black Sea Grain)

Pertama kali launching pada Juni tahun 2012, kontrak berjangka gandum jenis ini terdaftar di Chicago Mercantile Exchange (CME) dengan satuan kontrak berisi 136 ton.

Untuk pasar fisik, gandum laut hitam ini dapat dikirim ke Rusia, Ukraina, dan berbagai pelabuhan Roma di sepanjang Laut Hitam.

Meski pada tahun pertama listing di CME, gandum jenis ini dapat menguasai lebih dari 20% ekspor global gandum.

Namun, minat trader pun menurun terhadapnya. Saat ini kontrak berjangka gandum laut hitam sudah delisting dari CME.

 

#3 Pork Belly

Yup! Anda tidak salah baca, pork belly alias perut babi termasuk dalam kategori komoditas aneh dan jarang diperjualbelikan.

Tidak heran jika volume transaksinya kecil hingga akhirnya kehilangan peminat dan di-delisting dari exchanger.

Kontrak berjangka perut babi beku ini dimulai pada tahun 1961 pada CME dengan satuan kontrak sebesar 40.000 lb.

Sempat mencapai kejayaan pada tahun 1983 karena tingginya minat transaksi oleh industri pengolahan daging untuk menghindari risiko fluktuasi harga.

Karena menurunnya minat pelaku ekonomi terhadap komoditas ini akhirnya dilakukan delisting pada Juli 2012.

Komoditas Delisting 03 - Finansialku

[Baca Juga: Apakah Tepat Investasi Forex Bagi Milenial?]

 

#4 Konsentrat Jus Apel

Kontrak berjangka konsentrat jus apel pertama dimulai pada awal Agustus 2013 di The Minneapolis Grain Exchange (MGEX).

1 kontraknya berisi 1.800 galon dengan tingkat kemanisan 70˚ Brix. Margin minimal yang dibutuhkan sekitar 10% dari harga kontrak yang hendak dibeli.

Kontrak berjangka ini membantu petani apel, pelaku industri olahan apel dalam melindungi nilai dari fluktuasi harga untuk menjaga biaya produksi.

Sayangnya, karena tingkat partisipasi yang semakin melemah, kontrak berjangka ini berakhir pada 24 April 2018 lalu.

Seluruh transaksi konsentrat ini ditutup baik kontrak berjangka maupun opsi (options).

 

#5 Konsentrat Jus Jeruk Beku (FCOJ)

Empat komoditas di atas sudah cukup lama mengalami delisting. Selain itu ada juga komoditas yang berpeluang menyusul mereka.

Meskipun volume transaksinya terus menurun dari waktu ke waktu, namun komoditas ini masih memiliki volume transaksi. Komoditas tersebut ialah Konsentrat Jus Jeruk Beku (FCOJ).

Kontrak berjangka FCOJ pertama kali dilakukan pada tahun 1947 sebelum bursa perdagangan New York meresmikan perdagangan berjangka di tahun 1966.

Transaksi ini dilakukan dalam tujuan hedging oleh petani jeruk dan pengusaha serta speculator untuk memperoleh keuntungan dari fluktuasi harga.

Meski volume transaksinya terus menurun dari waktu ke waktu, hingga artikel ini ditulis, kontrak berjangka FCOJ masih dapat dilakukan.

 

Gratis Download Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

Ebook Panduan Investasi Saham untuk Pemula Finansialku.jpg

Download Ebook Sekarang

 

Definisi Ilikuid

Bicara tentang ilikuid, ilikuid diartikan sebagai asset yang tidak dapat dijual dalam waktu singkat dengan harga normal karena kekurangan pembeli atau kecilnya pasar.

Tentunya asset ilikuid memiliki risiko yang jauh lebih besar daripada yang likuid.

Jika hendak menjual asset ilikuid dalam waktu singkat, pihak pemilik harus menjual di bawah harga normal atau “mendiskon” sehingga menarik bagi pembeli.

Bagaimana Hubungan Inflasi dan Harga Komoditas 01 - Finansialku

[Baca Juga: LinkAja! BUMN Siap Ramaikan Pasar Fintech Indonesia]

 

Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi ketika penjual lebih banyak dari pembeli bahkan asset ilikuid menjadi semakin sulit dijual.

Penjual bahkan harus “mengobral” harga yang tentu merugikan pihak penjual. Pada kondisi yang lebih buruk lagi, terkadang asset ilikuid bisa kehilangan nilai sehingga menjadi 0.

Selain risiko di atas, komoditas yang ilikuid juga sangat rentan terhadap transaksi jual beli dalam jumlah besar dan mudah terombang-ambing “permainan harga” oleh spekulan.

 

Pentingnya Likuiditas

Sebagai instrumen investasi, likuiditas menjadi sorotan penting dalam memilih komoditas.

Asset likuid memungkinkan kita baik sebagai trader atau investor menjual komoditas yang kita miliki dengan harga pasaran yang wajar dalam waktu singkat.

Singkatnya ketika Anda hendak menjual, langsung ada yang membeli dengan harga sesuai tanpa menunggu lama.

Salah satu ciri utama suatu asset likuid adalah rentang antara penawaran dan permintaan harga tidak memiliki spread yang jauh serta biaya transaksi yang masuk akal.

 

Biaya transaksi yang mahal dan spread yang jauh akan menurunkan minat pelaku pasar dalam bertransaksi sehingga likuiditas juga turun.

Contoh nyata kasus kurangnya likuiditas adalah ketika krisis dan bubble di bidang properti terjadi di AS.

Properti mulanya bernilai tinggi sebelum terjadi krisis, namun ketika krisis ekonomi melanda investor banyak melakukan penjualan dengan harga rendah.

 

Seberapa Besar Pengaruh Likuiditas Pada Pasar Komoditas?

Komoditas didefinisikan sebagai suatu barang atau produk yang ditransaksikan di berbagai belahan dunia dengan standar dan kualitas seragam.

Beberapa komoditas unggulan dunia yaitu minyak, emas, gandum, dan sebagainya.

Selain produk hasil bumi tersebut, sebenarnya bursa berjangka juga memungkinkan transaksi kontrak berjangka terhadap mata uang asing dan berbagai indeks saham.

Bursa komoditas bersifat unik karena terdiri dari berbagai macam produk mulai dari yang umum hingga yang jarang ditransaksikan.

Selain itu, tidak jarang hasil produksinya sangat dipengaruhi faktor cuaca dan kondisi alam yang tak menentu.

Bagaimana Kondisi Pasar Komoditas Saat Krisis 01 - Finansialku

[Baca Juga: Diet Kantong Plastik, Bisakah Hidup Tanpa Kantong Plastik?]

 

Munculnya produk atau bahan baku pengganti juga perlu dipertimbangkan sebelum membeli komoditas.

Dibandingkan instrumen pasar modal dan ETF, saat ini komoditas memiliki partisipan pasar yang lebih sedikit jumlahnya.

Sehingga disarankan untuk melakukan transaksi terhadap produk-produk komoditas yang umum ditransaksikan, memiliki volatilitas dan likuiditas tinggi.

 

Pilih Komoditas yang Aman dan Likuid

Menjadi seorang trader atau investor memang memiliki tantangan tersendiri. Meskipun pilihan komoditas sudah banyak, tetap diperlukan kejelian akan potensi yang dimiliki masing-masing komoditas.

Memilih dengan bijak pun perlu dilakukan. Jangan sampai terjerumus hanya karena keuntungan yang besar di awal.

 

Apakah Anda pernah memiliki komoditas yang telah di-delisting? Mari bagikan pengalaman Anda di komentar berikut ini. Bagikan juga artikel ini kepada para investor atau trader lainnya. Terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Admin. 23 April 2018. CME Globex Notices: April 23, 2018. Cmegroup.com – https://goo.gl/iymAJ9
  • Admin. 24 Januari 2019. Nasdaq Commodities: Strategic Plan for 2019. Nasdaq.com – https://goo.gl/FuKmFA
  • David Thomas. 20 Agustus 2012. The Weird and Wonderful World of Commodities Futures. Fnlondon.com – https://goo.gl/mYmUn6
  • Nicholas Fett, Richard Haynes. 1 Februari 2017. Liquidity in Select Futures Markets. Washington: Commodity Futures Trading Commission (CFTC).

 

Sumber Gambar:

  • Komoditas Delisting 1 – https://goo.gl/ZpyVo5
  • Komoditas Delisting 2 – https://goo.gl/njvWmP
  • Komoditas Delisting 3 – https://goo.gl/3NJktr