Simak pembahasan kinerja dan prospek bisnis perusahaan energi PT Indika Energy Tbk. (INDY) di tengah membaiknya ekonomi dunia.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Learn and Invest

 

Analisis Fundamental

Perlambatan ekonomi global 19 semakin kuat terjadi pada tahun 2020 akibat Pandemi virus Covid19. Kegiatan ekonomi yang melambat tercermin dari aktivitas konsumsi dan perekonomian masyarakat yang melambat.

Hal ini menyebabkan konsumsi masyarakat akan beberapa barang dan jasa menjadi tertahan.

Perekonomian global yang sangat fluktuatif juga berdampak pada permintaan komoditas seperti batu bara. Namun pemulihan mulai terlihat pada kuartal III 2020.

Ekspansi produksi berbagai sektor mulai naik namun terbatas. Sektor mining menjadi salah satu yang mencatatkan penurunan output pada semester I 2020.

Sebagai salah satu emiten di sektor mining, INDY, perusahaan generasi ke 3 dari salah satu pendiri Grup Salim yang didirikan oleh Agus Lasmono Sudwikatmono, menjadi perhatian sejak Q3 2020 lalu.

PT Indika Energy Tbk. (INDY) tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2008, menjadi salah satu perusahaan energi terintegrasi yang terkemuka di Indonesia.

Portofolio bisnis Perusahaan mencakup sektor sumber daya energi, jasa energi, dan infrastruktur energi, serta sejumlah bisnis non-energi untuk menambah diversifikasi portfolio.

Bisnis usaha INDY terdiri dari segmen Sumber Daya Energi (PT Kideco Jaya Agung), perusahaan pertambangan batu bara terbesar ketiga di Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Timur), perusahaan pertambangan thermal bituminous dan coking coal di Kalimantan Tengah dan perusahaan perdagangan batu bara.

Analisis Prospek Bisnis Batubara_ PT Indika Energy Tbk. (INDY) 02

[Baca Juga: Analisis Prospek Bisnis PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG)]

 

Mayoritas saham batu bara melanjutkan tren penguatannya dari awal tahun 2020. Adapun, penguatan saham sektor itu sejalan dengan harga batu bara global yang juga tengah menghangat.

Saham batu bara pada tahun ini masih prospektif seiring dengan pemulihan harga batu bara yang diproyeksikan masih berlanjut dalam jangka pendek.

Kinerja saham emiten baru bara secara umum tidak terlepas dari meredanya pandemi Covid-19 di China yang diiringi kebangkitan ekonomi negara tersebut pada awal kuartal 3 – 2020. Sentimen itu menjadi alasan kenaikan harga batu bara.

Harga batu bara bahkan menyentuh level tertinggi dalam 1,5 tahun terakhir pada pertengahan Desember 2020 mencapai US$ 84,5/ton akibat pasokan domestik China terbatas ketika konsumsi listrik mulai meningkat. Sentimen lain juga berasal dari ketegangan hubungan China dengan Australia.

Dengan peluang yang ada, konsorsium besutan CT Corpora dan Grup Indika menargetkan bisa memulai pengiperasian terminal kendaraan di Pelabuhan Patimban pada November 2021.

Konsorsium saat ini masih mempersiapkan perizinan dan fasilitas yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pelabuhan yang dibangun atas pinjaman pemerintah Jepang tersebut.

Operasi Pelabuhan Patimban yang lebih dekat dengan sentra industri di Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada efisiensi biaya logistik para pelaku industri di Jawa Barat.

Kelancaran serta kemudahan aksesibilitas diharapkan dapat mengurai kemacetan di wilayah Tanjung Priok. Nantinya pelabuhan ini akan dibagi menjadi 2 area terminal yakni Terminal Kontainer dan Terminal Kendaraan.

Operasional kendaraan terminal diestimasi bisa dimulai pada November 2021 sedangkan terminal peti kemas tiga tahun berselang.

Lokasi Patimban juga diharapkan dapat berfungsi sebagai back up outlet pelabuhan dan menurunkan tingkat kemacetan di DKI Jakarta dengan memindahkan sebagian lalu lintas angkutan berat ke luar wilayah Ibu Kota.

Pelabuhan Patimban nantinya disiapkan untuk dapat menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang mengintegrasikan seluruh mata rantai pasok sekaligus menjadi pelabuhan baru berskala Internasional yang akan melengkapi pelabuhan internasional yang saat ini telah beroperasi.

 

Kinerja Keuangan PT Indika Energy Tbk. (INDY)

Untuk kinerja keuangan INDY di 2020, penjualan perseroan pada kuartal ketiga tidak sebaik dua kuartal sebelumnya dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan kurva yang menurun signifikan hingga saat ini.

INDY mencatatkan penurunan 26% secara year on year (yoy) dibandingkan dengan pendapatan Q3 2019 sebesar US$ 2,07 miliar menjadi US$ 1,53 miliar.

Hingga Q3 2020 perincian pendapatan emiten mayoritas masih berasal dari sektor batu bara yaitu sebesar 76%, sedangkan sektor non-batu bara baru berkontribusi sekitar 24 %.

Laba bersih tergerus 62,46% secara yoy menjadi Rugi US$ 44 Juta hingga Q3 tahun 2020. Sementara itu, INDY membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 52,5 juta. Jumlah itu membengkak dari perolehan periode yang sama tahun lalu yaitu rugi US$ 8,61 juta.

Harga batu bara INDY yang lemah juga akan banyak mengurangi laba. Aset perseroan mengalami koreksi 8,3% dibandingkan periode Q3 2019 menjadi US$ 3,3 miliar.

Aset INDY

INDY Data: rivankurniawan

 

Kas dan bank perseroan menurun 17,9% secara tahunan menjadi US$ 466 juta dikarenakan penurunan arus kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi, dan penurunan penerimaan kas dari pelanggan. 

Cash INDY

INDY Data: rivankurniawan

 

Pada sembilan bulan pertama tahun ini INDY telah memproduksi batu bara sebesar 23,9 juta ton melalui Kideco dan sebesar 1,1 juta ton dari produksi MUTU. Kedua volume produksi itu kompak terkontraksi jika dibandingkan dengan volume produksi pada periode yang sama tahun lalu, yaitu Kideco turun 6,6% dan MUTU turun 7%.

INDY mencatatkan kenaikan pos liabilitas sebesar 7,22% menjadi US$ 2,3 miliar, diikuti dengan koreksi pos ekuitas sebesar 10,96% menjadi US$ 931 juta, dibandingkan dengan periode akhir tahun 2019 US$ 1 miliar.

Perseroan mencatatkan penurunan pada beban pokok kontrak dan penjualan menjadi US$ 1,3 miliar.

Liabilitas n DER INDY

INDY Data: rivankurniawan

 

Dari laporan keuangan perseroan per Q3 2020 INDY (idx.co.id), kinerja keuangan INDY di Q3 2020 mencetak Rugi bersih US$ 44 juta.

Saat ini saham dihargai undervalued dengan valuasi Price Book Value (PBV)-nya yang ada di 0,64x, Price to Earning Ratio INDY ada di minus 8,44x.

Sedangkan Return on Equity INDY pada 2020 minus 7,6% karena belum bisa mencetak Laba Bersih.

Untuk melihat kesehatan keuangan perusahaan, tingkat DER perusahaan ada di 3,00x tergolong lebih tinggi dan tingkat Utang yang tinggi dibanding pesaing yang ada di sektornya.

ROE INDY

INDY Data: rivankurniawan

 

INDY mengalokasikan capex yang berasal dari sumber pendanaan kombinasi antara kas internal perseroan dan pinjaman perbankan. Pada tahun ini emiten berkode saham INDY mengalokasi capex sebesar US$ 100 juta.

Realisasi capex tahun ini tidak akan terserap semuanya dan masih akan melihat perkembangan proyek perseroan yang masih berjalan.

Lebih rinci, alokasi capex terbesar digunakan oleh Interport, yaitu sebesar US$ 30,2 juta seiring dengan penyelesaian proyek terminal penyimpanan BBM di Kalimantan Timur. Proyek tersebut saat ini telah rampung dan mulai beroperasi sejak awal November 2020.

Volume produksi terkontraksi jika dibandingkan dengan volume produksi pada periode yang sama tahun lalu, yaitu Kideco turun 6,6 persen dan MUTU turun 7 persen.

Kontribusi sektor non-batu bara itu berasal dari PTRO yang telah mengembangkan bisnis engineering & construction (E&C), serta Tripatra yang mengembangkan bisnis EPC ke sektor downstream, petrokimia, dan pembangkit listrik.

 

Ebook GRATIS, Panduan BERINVESTASI SAHAM Untuk PEMULA

9 Ebook Panduan Investasi Saham Untuk Pemula

 

Analisis Teknikal PT Indika Energy Tbk. (INDY)

Hingga perdagangan market Sesi I – 20 Januari 2021 tren IHSG mengalami penguatan 1,31%. INDY Sesi I ditutup menguat cukup signifikan sebesar 2,06% ke level 1,730.

Posisi INDY berpeluang untuk melanjutkan penguatannya, terlebih bila mampu menembus resistance 2050. Buy on Weakness pada posisi 1740-1850 bisa menjadi pertimbangan, jika melemah maka bisa stoploss pada kisaran harga 1540.

Teknikal INDY

 

Jika melihat histori pergerakan saham INDY adalah salah satu saham di bursa yang cukup aktif selama sejak Q3 2020. Secara ytd minus 2%, selama 3 bulan terakhir bullish 70,4%.

Saat ini harga INDY menguji resistance 2000. Terjadi koreksi tipis terlihat dari signal MACD.

Indikator MACD berada di atas garis nol dengan sinyal sell yang cukup kuat sejak perdagangan minggu ke-3 Januari, ada kemungkinan bullish seiring sentimen positif kepada batu bara yang masih cerah.

Indikator Stochastic menggunakan kerangka waktu daily terlihat sinyal sell, INDY saat ini berada diatas Moving Average.

Untuk indikator EMA (20), EMA (50) dan EMA (100) membentuk pola bullish. INDY mengalami bullish sejak akhir Oktober 2020, yang membuka peluang kenaikan harga saham hingga 70%,

 

Outlook PT Indika Energy Tbk. (INDY)

Dalam jangka panjang, energi terus menjadi kebutuhan dasar yang penting, melihat peningkatan permintaan batu bara secara global, sejalan dengan pertumbuhan populasi di Indonesia.

Menurut International Energy Agency (IEA), konsumsi energi dunia diperkirakan meningkat lebih dari 50% pada tahun 2030. Guna memenuhi pertumbuhan permintaan energi ini, IEA mengestimasi perlunya lebih dari US$ 26 triliun infrastruktur energi baru.

Sejalan dengan tren global, Indonesia juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan besar dalam konsumsi energi.

Sementara itu, terminal kontainer diperkirakan akan mulai dioperasikan oleh operator pada 2024, setelah pembangunan fasilitas infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya siap. Kedua terminal ditujukan untuk kegiatan domestik dan ekspor – impor.

Analisis Prospek Bisnis Batubara_ PT Indika Energy Tbk. (INDY) 03

[Baca Juga: Menelusuri Korelasi Harga Sektor Energi: Gas Alam vs Minyak Mentah]

 

Patimban yang merupakan salah satu proyek INDY diharapkan dapat menjadi bagian dari pelayanan transportasi dan logistik di Indonesia yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat secara umum serta memberikan multiplier effect, yang dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar Patimban dan Jawa Barat.

Permintaan impor global batu bara thermal diprediksi akan meningkat menjadi 1.002 juta ton di tahun 2027 dari 935,0 juta ton pada tahun 2016. Sementara pembangkit listrik bertenaga batu bara diproyeksikan Wood Mackenzie juga akan tumbuh menjadi 2.244 GW di tahun 2027 dari 1.976 GW di tahun 2016.

Faktor pertama yaitu permintaan akan sumber energi yang terus meningkat serta harga batu bara sebagai sumber energi yang tetap bersaing. Saat ini, kawasan Asia Utara yang meliputi Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan RRT, merupakan pasar batu bara thermal terbesar di dunia, menurut Wood Mackenzie.

PT Indika Energy Tbk. Terlihat terus melanjutkan ambisinya untuk melebarkan sayap bisnis di luar sektor batu bara.

Pada 2025, portofolio hasil diversifikasi usaha itu diharapkan berkontribusi hingga 50 persen terhadap pendapatan perseroan.

Perseroan menyampaikan tetap berkomitmen untuk bertransformasi menjadi perusahaan yang tidak hanya berfokus pada bisnis batu bara dan sektor terkait, kendati tahun ini dibayangi banyak tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19. (bisnis.com)

INDY memiliki initial budget untuk volume produksi batu bara pada 2021 sebesar 30 juta ton untuk PT Kideco Jaya Agung, dan sebesar 1,4 juta ton untuk PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU).

Pada tahun ini, perseroan mengestimasi volume produksi batu bara untuk Kideco sebesar 33 juta ton dengan initial budget sebesar 29 juta ton. Adapun, volume produksi MUTU hingga akhir tahun ini diestimasikan mencapai 1,2-1,3 juta ton.

komunitas saham

 

Kesimpulan

Menjadi emiten dengan bisnis terdiversifikasi pada bisnis batu bara yang cukup strategis di Indonesia. Proyeksi tahun ini ekonomi yang akan tumbuh namun juga cukup terbatas, koreksi IHSG dan beberapa saham bisa terjadi, secara long-term masih ada peluang untuk bertumbuh.

Saat ini posisi keuangan perusahaan memang terkoreksi dan tingkat utang dan aset yang tidak sehat juga menjadi perhatian, namun kualitas kinerja perseroan terbilang cukup baik dengan berbagai proyek yang mulai dikejar pada 2021 ini. 

Perusahaan memiliki bisnis komoditas batu bara yang siklikal dan fluktuatif, permintaan batu bara yang rendah kandungan sulfur dan rendah kalori akan menjadi sentimen positif namun seluruh aset dan kegiatan operasional Indika Energy dapat terpengaruh oleh kondisi politik, ekonomi, hukum, dan sosial Indonesia di masa depan, serta kebijakan dan tindakan pemerintah yang dapat mempengaruhi hasil operasional dan prospek Perusahaan.

Analisis Prospek Bisnis Batubara_ PT Indika Energy Tbk. (INDY) 04

[Baca Juga: Analisis Prospek PT Terregra Asia Energy Tbk. (TGRA)]

 

Jika kinerja INDY bisa membaik di 2021, melakukan efisiensi dan efektivitas pengelolaan aset dan utang, memperkuat kualitas keuangan mereka, proyek yang menjanjikan ke depannya maka INDY bisa lebih layak untuk diinvestasikan secara mid-term.

Jika kamu ingin mengambil momentum di emiten ini ditengah gejolak pasar saham dan komoditas batu bara saat ini, timing adalah kuncinya.

Saham memang sedang dihargai undervalued untuk saat ini namun untuk long-term kondisi keuangan INDY belum lebih baik daripada pesaing di sektornya yang sudah dihargai premium seperti ITMG, ADRO hingga PTBA.

 

Disclaimer: Penyebutan nama saham tidak bermaksud memberikan opsi buy/sell atau pun rekomendasi untuk saham tertentu. Artikel menunjukkan fakta dan analisa dari penulis berdasarkan laporan keuangan dan diambil dari sumber dianggap terpercaya. Data dapat berubah tergantung kondisi. Seluruh tulisan dan tanggapan adalah opini pribadi.

 

 

Itulah analisis saham INDY dan prospeknya ke depan yang bisa membantu pertimbangan investasi Anda. Punya pertanyaan? Anda bisa tanyakan dalam kolom komentar.

Anda juga bisa bergabung dalam grup komunitas belajar saham Finansialku untuk info terbaru dan diskusi mengenai saham dengan praktisi dan pakarnya.

 

Sumber Referensi:

  • Aplikasi IPOTGO
  • Annual Report PT Indika Energy Tbk. (www.idx.co.id)
  • Bisnis.com

 

Sumber Gambar:

  • Aplikasi ChartNexus
  • Consolidated Financial Statements INDY, Sept 2020
  • https://bit.ly/3qziQyG
  • https://bit.ly/2LOBZxR
  • https://bit.ly/3p5ztSg
  • https://bit.ly/39IBH3y