Fenomena panic buying ini datang pasca pengumuman virus corona di Indonesia, apakah wajar?

Yuk simak informasi selengkapnya dalam artikel Finansialku di bawah ini!

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku and News

 

Inilah Penjelasan Psikis dan Sains Tentang Panic Buying ini!

Pasca diumumkannya ada dua orang warga negara Indonesia yang terjangkit virus corona, para masyarakat menjadi kalut hingga melakukan aksi membeli barang dan kebutuhan pokok secara berlebih.

Banyak orang berduyun-duyun pergi ke toko serba ada untuk memborong barang secara berlebih.

Pada Senin (02/03) di pusat perbelanjaan Grand Lucky di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, misalnya, antrean panjang tampak mengular di depan kasir.

Melansir dari Kompas.com warga yang antre membawa troli berisi barang-barang kebutuhan pokok seperti mie instan, beras dan minyak.

Virus Corona Munculkan Panic Buying, Ini Efeknya 04

[Baca Juga: Virus Corona Munculkan Panic Buying, Ini Efeknya]

 

Psikolog klinis Dr Cindy Chan memaparkan bahwa kecenderungan orang melakukan panic buying ini akibat dari angka kematian dari Covid-19 yang terus meningkat, fasilitas-fasilitas umum yang ditutup, yang membuat orang-orang kalut akan kurangnya kebutuhan yang menunjang sehari-hari.

Hal itu bisa dipahami jika memang keadaan negara sudah darurat seperti yang terjadi di Australia atau Hong Kong.

Namun kejadian panic buying di Indonesia malah menimbulkan pertanyaan, mengapa orang-orang begitu reaksioner?

Virus Corona Munculkan Panic Buying, Ini Efeknya 01

[Baca Juga: Lakukan 5 Langkah ini Agar Tidak Tertular Virus Corona]

 

Sebuah jurnal neurosains menjelaskan bahwa ketika kita merasa terancam, misalnya oleh Covid-19, amygdala atau bagian otak yang memproses rasa takut dan emosi menjadi kelewat aktif dan berakibat pada matinya proses berpikir rasional.

Dari situ seseorang menjadi kurang rasional dan lebih mudah terpengaruh oleh pola pikir kelompok atau memunculkan mentalitas kolektif.

Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Tutum Rahanta menjelaskan bahwa panic buying malah membuat masyarakat lebih sulit mendapatkan stok yang diinginkan.

“Tak perlu panik, persediaan stok aman, kalau panic buying, perputaran stock yang dipajang tidak keburu. Kan barang perlu dipajang yang di keluarkan dari gudang penyimpanan,” ujar Tutum sebagaimana melansir dari Detik.com (04/03).

Faktor-faktor tersebut bersatu dan membuat seseorang menjadi lebih rentan melakukan salah penilaian.

Seorang Profesor Psikologi Sosial dari University of Sussex di Inggris, John Drury berpendapat bahwa referensi terhadap panic buying sendiri mendorong kepanikan publik.

“Ketika pemerintah dan media massa memberi tahu kita bahwa tetangga kita sedang melakukan ‘panic buying’, kita membayangkan orang-orang di sekitar kita bertindak individualistik dengan buru-buru menimbun barang untuk dirinya sendiri,” Kata Durry dikutip dari Kompas.com.

Artinya, media dan pemerintah berperan penting untuk mengalihkan kecemasan publik.

GRATISSS Download!!! Ebook Panduan Sukses Atur Gaji Ala Karyawan

Mockup Ebook Karyawan

Download Ebook Sekarang

 

 

Panik Boleh Berlebihan Jangan

Penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa aksi panic buying ini mampu memberi ketegangan batin bagi masyarakat, namun yang perlu diingat bahwa panik yang berlebih juga bisa bikin pikiran tak waras.

 

Sobat Finansialku, masa pandemi belum terlihat akan segera berakhir, tapi makin banyak saudara-saudara kita yang terseok-seok memenuhi kebutuhan sehari-hari karena PHK dampak COVID-19. Tidak ada yang bisa membantu mereka, selain kita.

Jika kita tidak mau membantu mereka, apa jadinya dengan keluarga yang harus diberi makan? Bagaimana dengan nasib anak-anak mereka yang kelaparan?

Belum terlambat untuk membantu mereka! Segera klik tombol di bawah ini sekarang untuk memberi Donasi bersama Finansialku, terima kasih…

Finansialku Bangun Empati Di Tengah Pandemi 02

KLIK DI SINI UNTUK DONASI

 

Tak usah menguras energi lebih untuk memikirkan virus corona ini, lebih baik cegah lewat menjaga kondisi tubuh agar tetap fit.

Bagaimana pendapat Sobat Finansialku? Kamu bisa tuangkan pendapat pada kolom komen di bawah ini, lho!

Sebarkan informasi ini kepada kawan dan sanak-saudara. Semoga bermanfaat dan tetap jaga kesehatan, ya.

 

Sumber Referensi:

  • Shierine Wangsa Wibawa. 03 Maret 2020. Penjelasan Psikologi di Balik PanicBuying Akibat Virus Corona. Kompas.com – https://bit.ly/3as0jfO
  • Soraya Novika. 03 Maret 2020. Ingat! Jangan PanicBuying, Stok Sembako Aman. Detik.com – https://bit.ly/2VP62Ix
  • Anggun P.Situmorang. 04 Maret 2020. Menteri Erick Soal PanicBuying: Kita Tak Bisa Melarang. Liputan6.com – https://bit.ly/2PMXldL
  • Dany Garjito, Farah Nabilla. 03 Maret 2020. Dampak Wabah Corona, Fenomena PanicBuying Landa Indonesia dan Australia. Suara.com – https://bit.ly/2VFdZzP