Pahami Definisi Unicorn dan Ketahui Startup yang Sudah Menjadi Unicorn

Apakah Anda pernah mendengar istilah Unicorn? Nyatanya, istilah Unicorn tidak hanya berhubungan dengan kisah legenda atau tokoh kartun semata. Istilah ini sering dihubungkan dengan gelar bagi startup yang berkembang saat ini.

Ingin tahu lebih lanjut? Mari simak ulasan selengkapnya melalui artikel Finansialku berikut ini.  Selamat membaca.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Start It Up

 

Apa itu Unicorn? Apa Hubungannya dengan Startup?

Baru-baru ini warga negara Indonesia, khususnya warga negara Indonesia di media sosial Twitter, dikejutkan dengan munculnya tagar baru yang berbunyi #UninstallBukalapak.

Hal ini berawal dari cuitan pendiri sekaligus CEO e-commerce asal Indonesia, Bukalapak, yang cukup sensitif karena menyinggung permasalahan politik yang sedang ramai dibicarakan belakangan ini.

Hal ini menimbulkan kesalahpahaman dan banyak pihak yang menyayangkannya karena e-commerce Bukalapak sudah menjadi startup Unicorn di dunia bisnis Indonesia.

Bicara tentang hal tersebut, banyak orang yang kemudian mempertanyakan, apa yang dimaksud dengan istilah Unicorn tersebut?

Unicorn Startup 02 - Finansialku

[Baca Juga: Para Investor WAJIB Tahu Keuntungan dan Kerugian Investasi Tanah]

 

Setelah ditelusuri, dilansir dari Tirto.id, istilah Unicorn merupakan gelar yang diberikan pada suatu startup yang memiliki nilai valuasi (nilai dari suatu startup, bukan sekedar pendanaan yang diraih dari investor) lebih dari US$1 miliar atau saat ini setara dengan Rp14 triliun.

Dari data tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Venture Beat, terdapat 229 startup yang sudah mendapatkan gelar Unicorn.

Semua startup tersebut tersebar di berbagai belahan dunia termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Jerman, India, Kanada, Inggris, dan Singapura.

Bidang yang digeluti oleh startup tersebut pun bervariasi, mulai dari keuangan, pemasaran, pelayanan, ritel, bahkan games.

Jumlah ini bisa saja bertambah seiring dengan perkembangan teknologi yang ada.

 

Hubungan Nilai Valuasi dengan Gelar Unicorn

Gelar Unicorn tersebut, dapat diraih apabila suatu startup sudah mencapai nilai valuasi tertentu. Namun, apa itu nilai valuasi?

Nilai valuasi memiliki pengertian yang cukup beragam dengan masing-masing perhitungannya. Namun singkatnya, dilansir dari Dailysocial.id nilai valuasi merupakan nilai dari suatu startup yang sedang berkembang.

Karena umumnya suatu startup masih tergolong semi-enterprise, biasanya nilai valuasinya ditentukan berdasarkan persetujuan antara founder dengan investor, sehingga tidak ada perhitungan yang saklek untuk menentukan valuasi.

Umumnya investor memiliki benchmark internal dan prosedur penghitungan valuasi, dilihat dari kapabilitas founder/co-founder, produk yang dipasarkan, traksi pengguna, hingga potensi produk tersebut ke depan.

Iklan Banner Online Course Yuk Buat Sendiri Rencana Keuangan Anda - Finansialku 728 x 90

Iklan Banner Online Course Yuk Buat Sendiri Rencana Keuangan Anda - Finansialku 336 x 280

Apabila ditelusuri lebih jauh, nilai valuasi memiliki sejumlah komponen yang bisa dijadikan pembuktian.

Ketika ada yang bertanya “Berapa nilai perusahaan tersebut?”, maka jawabannya harus merefleksikan komponen apa saja yang mampu dijadikan daftar dalam penentuan nilai tersebut.

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan:

“Untuk menentukan nilai valuasi dari sebuah startup sangat sulit sebenarnya. Dari sisi founder pasti merasa yang mereka kerjakan itu harganya tinggi sekali. Sementara dari investor, kita melihat kalau kita masuk di valuasi sekarang, di valuasi berapa kita bisa exit. Jadi valuasi pada saat investasi itu ditentukan nilai tengah dari ekspektasi investor dan founder.”

 

Willson menambahkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi valuasi startup sendiri adalah growth rate, setidaknya dengan persentase 30% MoM (Month-on-Month).

Di Indonesia sendiri, jumlah modal yang ditanamkan, jumlah investor, kekuatan produk dan kredibilitas founder memiliki peran yang besar saat melakukan proses penentuan nilai valuasi.

Selain itu, terdapat pula komponen lain yang bisa mempengaruhi nilai valuasi startup, yaitu:

 

#1 Nilai Pasar

Nilai ini merupakan nilai yang diberikan oleh pasar dan umumnya diwakili oleh para investor.

Misalnya, jika investor mengatakan bahwa startup X bernilai US$5 juta, maka itulah nilai yang dianggap layak diberikan saat proses penentuan nilai valuasi.

Namun, biasanya dari sisi founder merasa nilainya harus lebih tinggi karena adanya faktor lain yang memengaruhinya, misalnya ternyata ada aset atau kekuatan dari talenta bisnis yang dihitung bernilai lebih, maka nilai valuasi bisa saja bertambah.

Hal tersebut bisa terjadi apabila startup tersebut tidak bisa mengumpulkan uang dari aset yang disebutkan senilai penilaian valuasi sebelumnya. Jika tidak, maka nilai pasarlah yang berlaku.

Pada dasarnya, setiap startup memiliki hak untuk menentukan nilai valuasinya sendiri. Hal yang mungkin ditunjukkan untuk menyanggah nilai valuasi yang dinilai terlalu rendah bisa menggunakan perbandingan dan proyeksi keuangan.

Perbandingan biasanya dilakukan dengan cara menilai kapabilitas dan laju perkembangan startup yang bermain di sektor sama di pangsa pasar yang sama.

Bagaimana jangkauan produk, traksi pengguna, hingga varian produk yang ada di dalamnya akan menjadi bagian penting dalam komparasi tersebut.

Unicorn Startup 03 - Finansialku

[Baca Juga: Definisi, Manfaat, Faktor yang Mempengaruhi dan Contoh Analisis SWOT]

 

#2 Proyeksi Keuangan

Proyeksi keuangan berhubungan dengan tren, traksi pengguna, serta profit bisnis yang ada dari waktu sebelumnya.

Untuk tren dan traksi pengguna, biasanya digunakan khusus pada produk digital, karena proyeksi keuangan akan lebih mudah dianalisis.

Sedangkan untuk profit bisnis, bisa digunakan untuk produk apapun. Menunjukkan bahwa bisnis yang dijalankan mampu memberikan keuntungan yang fantastis merupakan cara yang paling mudah.

Ini pun menjadi tantangan untuk seluruh startup, karena rata-rata di fase awal fokus bisnis memang akan condong kepada akuisisi pengguna dan perluasan pangsa pasar.

Pada dasarnya penentuan valuasi startup memang menjadi sebuah proses seni. Banyak komponen yang bisa dimasukkan dalam nilai valuasi, namun hal ini bergantung pada siapa yang melakukan penentuan valuasi tersebut.

 

Startup Unicorn Asal Indonesia

Masih bicara tentang gelar Unicorn, nyatanya di Indonesia sendiri sudah terdapat beberapa nama startup yang mendapatkan gelar tersebut. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

 

#1 Gojek

Gojek merupakan startup di bidang penyedia jasa transportasi Indonesia yang berkembang pesat setelah meluncurkan aplikasinya pada awal tahun 2015.

Perusahaan ini didirikan oleh Nadiem Makarim yang cukup setia menggunakan jasa ojek sebelumnya.

Gojek menjadi startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar Unicorn. Gojek, memantapkan diri sebagai “Unicorn” tepat pada 4 Agustus 2016 lalu selepas menerima pendanaan senilai US$550 juta atau saat ini setara dengan Rp7,7 triliun dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug.

Gojek menyandang gelar Unicorn setelah sekitar 6 tahun berdiri. Waktu yang cukup bagi startup untuk mendapatkan gelar tersebut.

Tak berhenti di situ, pada 4 Mei 2017 Gojek kemudian memperoleh suntikan dana tambahan senilai US$1,2 miliar atau saat ini setara dengan Rp16,9 triliun dari Tencent Holding dan JD.com.

Hal inilah yang membuat suksesnya Gojek dalam hal total pendanaan mencapai angka US$1,75 miliar atau saat ini setara dengan Rp24,6 triliun, yang merupakan nilai tertinggi di antara empat “Unicorn” Indonesia.

Sedangkan, baru-baru ini Gojek juga dikabarkan baru saja menerima kucuran dana dari Google sebesar US$1,2 miliar atau saat ini setara dengan Rp16,9 triliun.

Grab dan Gojek Berlomba Kuasai Asia Tenggara 01 Finansialku

[Baca Juga: TOP 10 Berlian Termahal di Dunia yang Bikin Geger Semesta]

 

#2 Tokopedia

Setelah Gojek, startup kedua asal Indonesia yang mendapatkan gelar Unicorn ialah Tokopedia.

Dilansir dari Tirto.id, berdasarkan data yang dijabarkan dari Crunchbase, startup bidang layanan online market place tersebut, kini secara keseluruhan telah memperoleh pendanaan senilai US$1,34 miliar atau saat ini setara dengan Rp18,9 triliun.

Dari angka tersebut, investasi terbesar dicacatkan pada 17 Agustus 2017 lalu ketika Tokopedia memperoleh dana senilai US$1,1 miliar atau saat ini setara dengan Rp15,5 triliun dari Alibaba.

Sama dengan Gojek, Tokopedia mendapatkan gelar Unicorn setelah 6 tahun berdiri.

 

#3 Traveloka

Startup Indonesia ketiga yang mendapatkan gelar Unicorn ialah Traveloka.

Startup yang bergerak di bidang layanan penjualan tiket online tersebut, menyandang gelar tersebut selepas Expedia, layanan sejenis yang populer di luar negeri, mengucurkan dana senilai US$350 juta atau saat ini setara dengan Rp4,9 triliun pada 27 Juli 2017 lalu.

Inilah yang membuat Traveloka telah memperoleh total pendanaan sebesar US$500 juta atau saat ini setara dengan Rp7 triliun.

Meskipun menjadi yang ke-3, Traveloka bisa dibilang lebih unggul dibandingkan dengan Gojek dan Tokopedia karena berhasil menjadi “Unicorn” setelah 5 tahun berdiri.

Lowongan Kerja 2019 05 (Traveloka) - Finansialku

[Baca Juga: Begini 10 Resolusi Kepemimpinan Tahun 2019! Kamu???]

 

#4 Bukalapak

Startup terakhir yang mendapatkan gelar Unicorn tidak lain dan tidak bukan adalah Bukapalak. Sama dengan Tokopedia yang bergerak di bidang layanan online market place, bisa dikatakan hal ini sudah tidak mengejutkan dalam dunia bisnis.

Hal ini dikarenakan fakta bawah adanya peningkatan yang terjadi dalam aliran dana yang masuk ke dunia startup Indonesia.

Masih dilansir dari Tirto.id, data yang dipaparkan CBS Insights memaparkan bahwa terjadi kenaikan investasi yang cukup tinggi bagi dunia startup di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Achmad Zaky, sang pendiri sekaligus CEO Bukalapak mengungkapkan bahwa Bukalapak telah menerima pendanaan, dengan total valuasi lebih dari US$1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun.

Bukalapak berhasil mendapatkan gelar Unicorn setelah 7 tahun berdiri sejak tahun 2010.

 

Perkembangan Startup Unicorn Asal Indonesia

Bicara tentang gelar Unicorn, sesuai dengan perhitungan dari Venture Beat, sebuah startup memang membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum bisa menembus kategori Unicorn.

Startup rata-rata membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk bisa menembus kategori tersebut.

Dari pernyataan tersebut, maka bisa dikatakan bahwa Indonesia memiliki startup yang baik karena mampu mendapatkan gelar Unicorn dalam waktu yang sesuai.

Pertanyaannya kemudian bergeser pada, “Mengapa banyak Unicorn itu muncul di Indonesia?”

Dilansir dari Kompas.com, Ekonom Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko bercerita, beberapa waktu lalu, dirinya bertemu dengan Dubes Singapura.

Dalam pertemuan tersebut terdapat diskusi yang membahas mengapa unicorn-unicorn muncul dari Indonesia. Hasilnya ialah:

“Salah satu yang muncul itu, satu itu karena di sini (Indonesia) tidak ada aturannya. Karena tidak ada aturannya orang jadi berkreasi semaksimal mungkin. Yang kedua opportunity itu ada di sini, tidak di sana.”

 

Mengenai saat menjadi Unicorn, perusahaan-perusahaan tersebut ternyata secara tidak langsung sudah diambi alih oleh investor asing. Prasetyantoko menilai hal tersebut bukan merupakan suatu masalah, tetapi merupakan paradoks yang alamiah.

“Karena opportunity di sini, sehingga ruang untuk berkembang itu ada di sini. Tetapi begitu dia muncul jadi unicorn, asing yang ambil, take over.  Bagi saya ini alamiah untuk pasar Indonesia. Karena di sini ada opportunity, begitu dia mau naik harus ada injeksi asing.”

 

Daftar Aplikasi Finansialku

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

 

Pada kesempatan yang sama, masih dilansir dari Kompas.com, Direktur BTPN, Anika Faisal, menilai Indonesia merupakan pasar yang sangat besar dan mempunyai potensi yang sangat bagus.

“Sehingga apapun bisa berkembang, istilahnya tanahnya subur banget ditanami apapun tumbuh, potensi apapun tumbuh.”

 

Mengenai modal asing yang masuk ke Unicorn, Anika menyebutkan, hal itu karena kapasitas membangun modal di Indonesia memang masih belum bisa diharapkan.

“Sehingga bila mengharapkan pengumpulan modal dari dalam negeri itu yang sulit, itu lah mengapa datang dari asing.”

 

Namun Anika mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan, selama Indonesia mendapatkan manfaat dari modal tersebut.

“Karena kan orang bawa uang ke Indonesia untuk kebaikan Indonesia kenapa tidak? Yang penting apakah memberikan kemanfaatan enggak? Nah kalau memberikan manfaat, seperti bayar pajak, memberikan pekerjaan bagi orang Indonesia, uangnya itu di Indonesia, di-invest dan reinvest kenapa enggak?”

 

Startup Unicorn Asal Indonesia dengan Startup Unicorn Asal Negara Lain

4 startup asal Indonesia memang berhasil menyandang gelar Unicorn. Namun, kini kembali ke waktu sebelumnya.

Berdasarkan data, sebelum Bukalapak menyandang gelar Unicorn, nyatanya, Grab, salah satu pesaing Gojek yang bergerak di bidang penyedia jasa transportasi asal Singapura, menyandang gelar Unicorn terhitung lebih cepat.

Grab sendiri didirikan oleh Anthony Tan pada tahun 2012 lalu. Kemudian, ia memperoleh pendanaan senilai US$250 juta atau saat ini setara dengan Rp3,5 triliun pada Desember 2014 dari SoftBank.

Di tahun itulah Grab mendapatkan gelar sebagai startup Unicorn asal Singapura. Perolehan tersebut Grab dapatkan selepas sebelumnya sudah mengumpulkan dana senilai US$350 juta atau saat ini setara dengan Rp4,9 triliun hanya dalam waktu 14 bulan semenjak kelahirannya.

Unicorn Startup 04 - Finansialku

[Baca Juga: Vloggers: Ikuti Cara dan Tips Menambah Viewers]

 

Melihat hal ini, investasi yang masuk pada startup Indonesia masih kalah dibandingkan pada startup Singapura.

Tercatat, Singapura sudah berhasil memperoleh kucuran dana senilai US$3,037 miliar atau saat ini setara dengan Rp42,7 triliun, unggul tipis jika dibandingkan Indonesia.

Pada tahun 2015, investasi startup di Asia Tenggara berada di angka US$1,719 miliar atau saat ini setara dengan Rp24,2 triliun. Pada 2016 nilainya meningkat menjadi US$3,09 miliar atau saat ini setara dengan Rp43,5 triliun.

Belum genap 2017 berakhir, nilai investasi di Asia Tenggara di para startup telah berada di angka US$6,4 miliar.

Dari angka yang besar itu, uang senilai US$2,948 miliar atau saat ini setara dengan Rp41,5 triliun masuk ke startup di Indonesia pada tahun 2017.

Menariknya, besaran dana yang digondol startup Indonesia dan Singapura dari investor dunia, unggul sangat jauh dibandingkan negara Asia Tenggara lain, misalnya Malaysia.

Para startup di Malaysia hanya memperoleh kucuran dana senilai US$352 juta atau saat ini setara dengan Rp4,9 triliun di tahun 2017.

 

Apa pendapatmu mengenai startup Unicorn asal Indonesia? Apakah Anda terpacu untuk mendirikan startup dan menjadi Unicorn asal Indonesia?

Sila tinggalkan pendapat dan komentar Anda melalui kolom komentar di bawah ini. Terima kasih!

 

Catatan: US$1 = Rp14.092.

 

Sumber Referensi:

  • Admin. 12 Maret 2016. Mengenal Istilah ‘Unicorn’ dalam Dunia Startup. Hitsss.com – https://goo.gl/7MFsHJ
  • Ahmad Zaenudin. 19 November 2017. Melihat Perjalanan 4 StartupUnicorn” asal Indonesia. Tirto.id – https://goo.gl/6s2chH
  • Erlangga Djumena. 12 Februari 2018. Kenapa Unicorn Muncul di Indonesia? Kompas.com – https://goo.gl/XFWToR
  • Randi Eka. 11 Agustus 2016. Mengenal Valuasi Startup dan Istilah “Unicorn. Dailysocial.id – https://goo.gl/5knN2V
  • Yodhia Antariksa. 11 December 2017. 4 Start Up Unicorn Indonesia dan Pelajaran Gila tentang Valuasi Digital Business. Strategimanajemen.net – https://goo.gl/6iQ5ZX

 

Sumber Gambar:

  • Unicorn Startup 1 – https://goo.gl/j5NfWQ
  • Unicorn Startup 2 – https://goo.gl/oQH3Ec
  • Unicorn Startup 3 – https://goo.gl/4AbeRU
  • Unicorn Startup 4 – https://goo.gl/RAFgdR
By |2019-02-19T06:08:00+07:00February 18th, 2019|Categories: Bisnis|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Dian Fauzi Utami
Dian Fauzi Utami ialah seorang mahasiswa yang sedang menempuh studi S1 di prodi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Sedang menekuni salah satu hobinya di bidang radio untuk menjadi Announcer di salah satu radio komunitas di Jatinangor. Tertarik dengan segala hal yang berhuhungan dengan radio, tulisan, dan fashion.

Leave A Comment