Apakah Anda Mengalami Kejenuhan Kerja (Burnout)? Yuk Cari Tahu Jawabannya Disini!

Pernahkah Anda mengalami jenuh dalam bekerja, apakah ini salah satu ciri-ciri Anda mengalami burnout? Dewasa ini, masalah kejenuhan kerja memang banyak terjadi.

Terutama dalam dunia kerja yang modern serta super sibuk ini. Nah, untuk mengetahui apakah Anda mengalaminya atau tidak, simak ulasan berikut ini.

 

Rubrik Finansialku

Rubrik Finansialku Finansialku Planner

 

Mengenal Kejenuhan Kerja (Burnout)

Pada zaman modern ini, pekerjaan memang semakin melelahkan. Tidak jarang karyawan terpaksa lembur dan bekerja lebih keras agar tetap bisa bertahan di dalam persaingan kerja yang ketat.

Salah satu hal yang cukup diperhatikan dalam persaingan adalah kinerja dari sumber daya manusianya. Dimana hal ini memang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap performa perusahaan.

 

Banyak faktor yang terkait dalam perbaikan kinerja perusahaan. Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam mencapai tujuannya adalah faktor sumber daya manusia (SDM).

Manusia disini berfungsi sebagai penggerak perusahaan karena eksistensi perusahaan tergantung pada manusia-manusia yang terlibat di belakangnya.

Untuk dapat mencapai tujuan dari perusahaan diperlukan sumber daya dengan kinerja yang memuaskan pula.

Umumnya perusahaan mengharapkan kinerja yang baik dari masing-masing karyawan dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sebuah perusahaan.

Namun sayangnya hal ini tidak dapat dilakukan dari satu arah saja. Dibutuhkan juga upaya dari pihak perusahaan untuk dapat mengoptimalkan kinerja karyawan atau sumber daya manusia tersebut.

Apakah Anda Mengalami Kejenuhan Kerja 02 Burnout 2 - Finansialku

[Baca Juga: 20 Cara Seorang Pemimpin Meningkatkan Semangat Kerja Tanpa Mengandalkan Uang. Silakan Anda Buktikan Sendiri!]

 

Oleh karena itu, Handoko dalam bukunya “Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia” mengungkapkan bahwa:

“Kualitas sumber daya manusia senantiasa harus dikembangkan dan diarahkan agar tercapainya tujuan yang telah ditetapkan oleh suatu perusahaan atau organisasi.”

 

Berdasarkan sebuah studi, salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja sumber daya manusia adalah segi kejenuhan kerjanya di perusahaan tersebut.

Istilah burnout sebenarnya diperkenalkan oleh Bradley pada tahun 1969, namun tokoh yang dianggap sebagai penemu dan penggagas istilah burnout adalah Herbert Freudenberger yang menulis artikel tentang fenomena burnout pada tahun 1974.

 

Pada masa itu, Freudenberger yang bekerja sebagai psikiater di salah satu klinik kecanduan obat di New York melihat bahwa banyak tenaga sukarelawan yang semula bersemangat melayani pasien kemudian mengalami penurunan motivasi dan komitmen kerja yang disertai dengan gejala keletihan fisik dan mental.

Namun apa yang dimaksud dengan kejenuhan kerja (burnout) itu sendiri? Pada artikel ini, Finansialku sudah merangkumnya sebagai berikut:

Apakah Anda Mengalami Kejenuhan Kerja 03 Burnout 3 - Finansialku

[Baca Juga: Para HRD Ketahui 5 Hal yang Harus Dibahas Pada Pelatihan Persiapan Pensiun Karyawan]

 

Pengertian Kejenuhan Kerja (Burnout)

Untuk dapat memahami apa makna dari kejenuhan kerja (burnout), Anda perlu memahami definisinya terlebih dahulu. Oleh karena itu, mari melihat definisinya menurut para ahli berikut ini:

SumberPengertian/Definisi
Pines dan Aronson (Hallman, 2003)Kejenuhan kerja (burnout) adalah kelelahan secara fisik, emosional dan mental yang disebabkan keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang penuh tuntutan emosional.
Papalia (2007)Kejenuhan kerja (burnout) merupakan respon yang berkepanjangan terkait faktor penyebab stres yang terus-menerus terjadi di tempat kerja di mana hasilnya merupakan 12 perpaduan antara pekerja dan pekerjaannya.
King (Retno, Machmuroch, Priyatama, 2014)Kejenuhan kerja (burnout) adalah keadaan stres psikologi yang sangat berat pada seseorang yang mengalami kelelahan emosional dan sedikit motivasi untuk bekerja.
Ivancevich (dalam Retno, Machmuroch & Priyatama, 2014)Kejenuhan kerja (burnout) adalah suatu proses psikologis pembawaan stres kerja yang tidak hilang, menghasilkan kelelahan emosi, perubahan kepribadian, dan perasaan penurunan pencapaian pribadi.

 

Melalui definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kejenuhan kerja atau burnout merupakan suatu kondisi psikis negatif individu yang tampak dalam perilakunya, ditandai dengan tingkat kelelahan yang ekstrim, kejenuhan dan penurunan pencapaian prestasi diri, khususnya pada pekerjaan pelayanan kemanusiaan (human services), akibat ketidakpuasan terhadap hasil yang diperoleh serta adanya tekanan-tekanan yang diterima secara eksternal ataupun internal yang bersifat psikologis.

Lantas apa yang menjadi penyebabnya?

Konflik dan Stress Kerja 02 Finansialku

[Baca Juga: Sudahkah Anda Tahu: Tunjangan dan Kompensasi Kerja? Dan Bagaimana Cara Memanfaatkan dengan Benar?]

 

Faktor Penyebab Kejenuhan Kerja (Burnout)

Setelah mengetahui makna kejenuhan kerja (burnout) itu sendiri, kini Anda perlu mengetahui penyebabnya. Kejenuhan kerja ini sendiri dapat muncul dari dalam individu atau diri sendiri dan lingkungan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan kejenuhan kerja ini seperti yang diungkapkan oleh Baron dan Greenberg berikut ini:

Gratis Download Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis

Ebook Pentingnya Mengelola Keuangan Pribadi dan Bisnis - Mock Up - Finansialku Jurnal

DOWNLOAD EBOOK SEKARANG

 

#1 Faktor Eksternal (Lingkungan)

Merupakan faktor yang timbul dari luar, meliputi lingkungan kerja psikologis yang kurang baik, kurangnya kesempatan untuk promosi, imbalan yang diberikan tidak mencukupi, kurangnya dukungan sosial dari atasan, tuntutan pekerjaan, dan pekerjaan yang monoton.

 

#2 Faktor Internal (Individu)

Merupakan faktor yang muncul dari dalam individu atau diri sendiri, meliputi usia, jenis kelamin, harga diri, dan karakteristik kepribadian.

Mau Liburan tapi Pekerjaan Banyak Lakukan Rahasia ini Biar Gak Stres 02 - Finansialku

[Baca Juga: Tahukah Anda Apa itu Sistem Perencanaan Sumber Daya Manusia? Yuk Cari Tahu Sekarang!]

 

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kejenuhan kerja (burnout) tidak selalu terjadi karena faktor pekerjaannya saja, namun juga bisa muncul dari dalam diri individu terkait.

Akan tetapi, berdasarkan definisinya, dapat dikatakan kejenuhan kerja (burnout) umumnya disebabkan oleh stres intens yang berkepanjangan. Stres ini muncul akibat kejenuhan baik dari dalam dan luar diri individu tersebut.

Iklan Banner Perencanaan Dana Pendidikan Anak - 728x90

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

Dampak Kejenuhan Kerja (Burnout)

Sudah banyak studi yang mempelajari mengenai kejenuhan kerja (burnout) ini karena dampak negatifnya yang cukup berpengaruh pada dunia kerja.

Adapun dampak kejenuhan kerja (burnout) bisa terjadi bukan hanya terhadap individu yang berkaitan, namun juga terhadap perusahaan tempat individu tersebut bekerja.

Jewell & Siegall dalam bukunya menjelaskan dampak kejenuhan kerja (burnout) dalam 2 poin berikut ini:

 

#1 Bagi Individu

Menurut Jackson akibat yang terjadi dari kejenuhan kerja (burnout) bagi individu adalah memburuknya kualitas hubungan rumah tangga, masalah kesehatan dan hubungan yang buruk dengan rekan sekerja.

 

#2 Bagi Organisasi

Sementara akibat kejenuhan kerja (burnout) bagi organisasi menurut Jackson adalah pemberi pelayanan yang berkualitas rendah bagi pelanggan (klien, pasien), merendahnya keterlibatan kerja pada bidangnya dan meningkatnya orang yang pindah kerja.

Jadi, bisa dibilang kejenuhan kerja ini berdampak negatif bagi kedua pihak, sehingga sebaiknya kejenuhan tersebut dapat segera diatasi.

Cara Hadapi Stres 03 Stres di Tempat Kerja - Finansialku

 [Baca Juga: 10 Tips Meningkatkan Produktivitas Kerja Setelah Pulang Kampung dan Libur Lebaran]

 

Mengatasi Kejenuhan Kerja dengan Efikasi Diri

Melalui ulasan di atas, apakah Anda termasuk salah satu karyawan yang mengalami kejenuhan kerja ini? Jika iya, jangan khawatir. Anda bisa mengatasinya dengan apa yang disebut dengan efikasi diri.

Iklan Perencanaaan Hari Tua - 728x90

Download Aplikasi Finansialku di Google Play Store

Apa itu efikasi diri?

Baron dan Byrne mendefinisikan efikasi diri sebagai berikut:

“Evaluasi seseorang mengenai kemampuan atau kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas, mencapai tujuan dan mengatasi hambatan.”

 

Sementara Feist dan Feist menyatakan bahwa:

“Efikasi diri adalah keyakinan individu bahwa mereka memiliki 20 kemampuan dalam mengadakan kontrol terhadap pekerjaan mereka terhadap peristiwa lingkungan mereka sendiri.”

 

Bandura berpendapat bahwa:

“Efikasi diri adalah 4 kemampuan umum yang terdiri atas aspek-aspek kognitif, sosial, emosional dan perilaku. Individu harus mampu mengolah aspek-aspek itu untuk mencapai tujuan tertentu.”

 

Menurut Bandura juga, efikasi diri menentukan apakah kita akan menunjukkan perilaku tertentu, sekuat apa kita dapat bertahan saat menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan bagaimana kesuksesan atau kegagalan dalam suatu tugas tertentu mempengaruhi perilaku kita di masa depan.

HR Tingkatkan Kinerja Karyawan dengan 6 Cara Motivasi Ini 01 - Finansialku

[Baca Juga: Para HRD Ketahui 5 Hal yang Harus Dibahas Pada Pelatihan Persiapan Pensiun Karyawan]

 

Artinya, dibutuhkan efikasi diri bagi diri karyawan agar mereka bisa mencoba sebuah perilaku. Tanpa efikasi maka mereka akan enggan menentukan perilaku mereka sendiri.

Bagaimana Anda bisa membentuk efikasi diri? Efikasi diri atau keyakinan kebisaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni sebagai berikut:

 

#1 Performance Accomplishment

Ini merupakan prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Performa masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya.

Prestasi (masa lalu) yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai suatu keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya.

Bagaimana Caranya Menyekolahkan Anak dari TK sampai Sarjana, Tanpa Utang!

Silakan download ebook-nya, GRATIS!!!

Ebook Dana Pendidikan Anak - Finansialku Mockup

Download Sekarang

 

#2 Vicarious Experience

Vicarious experience ini diperoleh melalui model sosial.

Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya tapi ternyata malah mengalami kegagalan.

Jika figur yang diamati berbeda dengan diri si pengamat, pengaruh vikarius tidak besar.

Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figur yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tersebut malah tidak mau mengerjakan hal gagal yang pernah dikerjakan figur yang diamatinya tersebut itu dalam jangka waktu yang lama.

 

#3 Social Persuation

Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial.

Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistis dari apa yang dipersuasikan.

 

#4 Emotional/Physiological States

Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stres, dapat mengurangi efikasi diri.

Namun bisa saja, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) justru dapat meningkatkan efikasi diri.

Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Intelektual adalah Cara Menjadi Sukses 01 - Finansialku

 [Baca Juga: Ini Dia Hak Karyawan Berdasarkan UU Ketenagakerjaan yang Perlu Diketahui]

 

Dimensi Efikasi Diri

Efikasi diri pun terdiri atas beberapa dimensi, seperti diungkapkan oleh Bandura berikut ini:

 

#1 Level (Tingkatan Kesulitan)

Kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas akan berbeda-beda, begitu juga tingkat kesulitan setiap tugas tersebut juga akan berbeda.

Individu dengan efikasi diri tinggi akan mempunyai keyakinan yang tinggi tentang kemampuan dalam melakukan suatu tugas yaitu menjalankan peran yang tingkatannya berbeda.

Sebaliknya individu yang memiliki efikasi diri rendah akan memiliki keyakinan yang rendah pula untuk menjalankan perannya.

Efikasi diri dapat ditunjukkan dengan tingkatan yang dibebankan pada individu, dimana nantinya terdapat tantangan dengan tingkat yang berbeda dalam rangka menuju keberhasilan.

Seorang individu akan mencoba tingkah laku yang dirasa mampu untuk dilakukannya dan akan menghindari tingkah laku yang dirasa diluar batas kemampuannya.

Kemampuan dapat dilihat dalam bentuk tingkat kecerdasan, usaha, ketepatan, produktivitas dan cara mengatasi tantangan.

Hasil dari perbandingan antara tantangan yang timbul ketika individu mencapai performa yang baik dengan kemampuan yang dimiliki oleh individu itu sendiri akan bermacam-macam tergantung dengan aktivitas yang dilakukan.

Gratis Download Ebook Panduan Investasi Emas untuk Pemula

Download Ebook Panduan Berinvestasi Emas untuk Pemula - Harga Emas Hari Ini - Finansialku

Download Ebook Sekarang

 

#2 Generality (Keleluasaan)

Hal ini berkaitan dengan cakupan luas bidang tingkah laku dimana individu merasa yakin terhadap kemampuannya.

Individu mampu menilai keyakinan dirinya dalam menyelesaikan tugas.

Mampu atau tidaknya individu dalam mengerjakan bidang-bidang dan konteks tertentu mengungkapkan gambaran secara umum tentang efikasi diri individu tersebut.

Generalisasi bisa bervariasi dalam beberapa bentuk dimensi yang berbeda, termasuk tingkat kesamaan aktivitas dan modalitas dimana kemampuan diekspresikan yang mencangkup tingkah laku, kognitif dan afeksi.

 

#3 Strength (Ketahanan)

Strength merupakan hal yang berkaitan dengan kekuatan pada keyakinan individu atas kemampuannya.

Individu mempunyai keyakinan yang kuat dan ketekunan dalam usaha yang akan dicapai meskipun terdapat kesulitan dan rintangan. Dengan efikasi diri, kekuatan untuk usaha yang lebih besar mampu didapat.

Semakin kuat perasaan efikasi diri dan semakin besar ketekunannya, maka akan semakin tinggi pula kemungkinan kegiatan yang dipilih tersebut untuk dilakukan dan dapat berhasil.

Ketakutan Entrepreneur! Jadikanlah Ketakutan Menjadi Kekuatan! 02 - Finansialku

[Baca Juga: 20 Cara Seorang Pemimpin Meningkatkan Semangat Kerja Tanpa Mengandalkan Uang. Silakan Anda Buktikan Sendiri!]

 

Apakah Anda Mengalami Kejenuhan Kerja (Burnout)?

Melihat pembahasan tadi, sudahkah Anda mengetahui apakah Anda mengalami kejenuhan kerja atau tidak?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, kejenuhan kerja (burnout) ini dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja Anda.

Jadi, jika Anda juga mengalaminya, jangan ragu untuk segera mengatasinya dengan menanamkan efikasi diri yang positif.

Jika perlu, Anda bisa beristirahat sejenak dari rutinitas atau pekerjaan Anda. Dengan demikian kejenuhan dapat dihentikan sejenak.

Sehingga akhirnya Anda memiliki waktu untuk mengisi “baterai” diri Anda dan memulai pekerjaan dengan semangat yang baru.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, terima kasih.

 

Apakah Anda memiliki pertanyaan mengenai kejenuhan kerja (burnout) lainnya? Tinggalkan komentar Anda di bawah.

Jika ada pertanyaan, silakan ajukan juga pertanyaan Anda pada kolom di bawah ini. Perencana Keuangan kami siap membantu Anda, terima kasih.

 

Sumber Referensi:

  • Hani Handoko. 2003. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
  • Wahyuni. 2015. Burnout. Repository.uin-suska.ac.id – https://goo.gl/9E4sgr

 

Sumber Gambar:

  • Burnout 1 – https://goo.gl/WDVtsb
  • Burnout 2 – https://goo.gl/nVdRNK
  • Burnout 3 – https://goo.gl/GiMZru
Summary
Apakah Anda Mengalami Kejenuhan Kerja (Burnout)? Yuk Cari Tahu Jawabannya Disini!
Article Name
Apakah Anda Mengalami Kejenuhan Kerja (Burnout)? Yuk Cari Tahu Jawabannya Disini!
Description
Pernahkah Anda mengalami jenuh bekerja, apakah ini ciri-ciri Anda mengalami burnout? Saat ini, masalah kejenuhan kerja memang banyak terjadi.
Author
Publisher Name
Finansialku.com
Publisher Logo
By |2018-10-26T10:05:36+00:00October 25th, 2018|Categories: HR, Karir|Tags: , , , , |0 Comments

About the Author:

Fransiska Ardela, S.T
Fransiska Ardela, S.T. memiliki background pendidikan S1 di Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Katolik Parahyangan. Memiliki ketertarikan dan pengalaman di bidang pendidikan, product management, dan entrepreneurship.

Leave A Comment